RSS

MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS TIK (E – LEARNING) KITA CAPAI SEKOLAH YANG CERDAS, KOMPETITIF DAN BERKARAKTER

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 8, 2011 in MATA KULIAH ICT

 

Tag:

Galeri

MENGEMBANGKAN PEMBELAJARAN KOMPETENSI MENULIS BERBASIS INTERNET MELALUI MEDIA BLOG (Tugas UAS ICT)

 

 

 

 

 

 

 

 

A. Pendahuluan

Teknologi merupakan produk kreatif manusia untuk memenuhi berbagai keperluan hidup secara efektif. Internet sebagai bagian dari produk teknologi informasi berkembang pesat dan telah membawa perubahan yang luar biasa pada segala aspek kehidupan manusia. Tak pelak lagi internet telah memengaruhi pola berkomunikasi antarmanusia dalam dunia maya. Melalui internet setiap orang dapat berkomunikasi. Bahkan, dunia pendidikan pun tidak luput untuk memanfaatkannya sehingga kelas maya dapat tercipta.

Internet menawarkan banyak fasilitas untuk dunia pendidikan. Fasilitas komunikasi yang disediakan internet telah memungkinkan kelas online menjadi kenyataan dengan mempergunakan halaman web berbasis teks, surat elektronik (e-mail), pertukaran teks dan atau suara secara langsung (Internet Relay Chat), dan berbagai fasilitas multimedia interaktif. Dengan demikian, kegiatan belajar-mengajar dapat dilaksanakan, baik yang bersifat tertunda (delayed, seperti melalui e-mail) maupun secara langsung atau instan (real-time, misalnya melalui IRC dan audio-video conferencing). Pengajar dan peserta didik dapat melakukan komunikasi lintas waktu sehingga pembelajaran dapat dimak-simalkan untuk pencapaian hasil belajar.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat banyak me-nawarkan berbagai kemudahan-kemudahan baru dalam pembelajaran. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK/ICT) dalam pembelajaran saat ini terus berkembang.

Bahan belajar merupakan elemen penting dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran. Untuk itu, maka kemampuan seorang guru dalam mengembangkan bahan belajar berbasis media blog menjadi sangat penting. Bahan ajar adalah segala bentuk conten baik teks, audio, foto, video, animasi, dll yang dapat digunakan untuk belajar.

Sementara itu kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat memungkinkan terjadinya pergeseran orientasi belajar dari outside-guided menjadi selfguided dan dari knowledge-as-possesion menjadi knowledge-as-construction. Lebih  dari itu, teknologi ini ternyata turut juga memainkan peran penting dalam memper-baharui konsepsi pembelajaran. Yang semula focus pada pembelajaran semata-mata sebagai suatu penyajian berbagai pengetahuan, kemudian menjadi pembelajaran sebagai suatu bimbingan  agar siswa mampu melakukan eksplorasi sosial budaya yang kaya akan pengetahuan.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, pemanfaatan komputer sebagai media pembelajaran sangat mungkin sekali dilakukan. Komputer sebagai hasil teknologi mutakhir, dewasa ini tidak hanya mampu menjadi “media” saja tetapi “multimedia”. Komputer tidak hanya mampu menampilkan teks atau gambar saja layaknya transparan dan OHP. Lebih dari itu, komputer mampu menampilkan teks, gambar, musik, seni grafik, animasi, movie (film) sekaligus.

Penggunaan multimedia berbasis komputer dalam pembelajaran dirasakan semakin memberikan peranan yang penting saat ini. Sebuah bentuk pembelajaran yang dahulu dirasa tidak mungkin dilaksanakan, multimedia memberikan jawabannya. Media-media dirancang untuk saling melengkapi sehingga seluruh sistem yang ada menjadi berdaya guna dan tepat guna, dimana suatu kesatuan menjadi lebih besar/baik dari jumlah bagian-bagiannya.

Dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan bahasa, penggunaan bahasa dikemas dalam empat aspek keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis). Dikaitkan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, aspek keterampilan berbahasa menjadi komponen menarik untuk dikaji. Suatu teknologi ditemukan dan dikembangkan untuk kemaslahatan umat manusia. Dengan teknologi segala hajat hidup dapat dilakukan dengan cara yang efektif dan efisien. Bahkan, para pemakai bahasa pun dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kompetensi berbahasa, baik secara reseptif maupun produktif.

Bahasa Indonesia sangat penting peranannya bagi keberlangsungan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selain itu Bahasa Indonesia juga memiliki peranan yang penting dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Hal ini dapat diamati dan dirasakan pada waktu kegiatan belajar-mengajar.

Pengajaran Bahasa Indonesia bertujuan untuk mengembangkan kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia dalam segala fungsinya, yaitu sarana berkomunikasi, sarana berpikir atau bernalar, sarana persatuan dan sarana kebudayaan. Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi, sebagai sarana belajar komu-nikasi, pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar tersebut, meliputi empat aspek ketrampilan yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat aspek ketrampilan tersebut saling berkaitan satu sama lain dengan cara yang beraneka ragam.

Salah satu kemampuan penggunaan bahasa Indonesia adalah siswa terampil menulis. Kemampuan menulis yang baik sangatlah penting bagi siswa di kemudian hari karena akan mampu memberikan kesempatan dan juga tentunya tantangan yang lebih bagi mereka. Untuk menghasilkan suatu tulisan yang baik, seseorang harus memiliki skemata yang memadai untuk dapat diekspresikan secara efektif melalui media tulis. Suatu tulisan yang baik tidaklah bisa sekali jadi, namun semestinya melewati berbagai proses mulai dari proses outline, membuat draft, sampai bisa menjadi tulisan, dan sepanjang proses tersebut, revisi secara berkesinambungan terus dilakukan. Namun dalam kenyataannya, banyak mahasiswa yang tidak menghasilkan suatu tulisan dengan melalui proses menulis tersebut

Dalam makalah ini pemakalah mencoba memberikan peluang-peluang untuk menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran keterampilan menulis. utamanya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia. Seiring dengan perkembangan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran menulis, perkembangan pesat TIK ini memberikan tantangan sekaligus kesempatan bagi pengajar dan siswa agar dapat digunakan secara efektif di dalam pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas.

Seiring dengan perkembangan TIK dewasa ini, terdapat banyak media online yang gratis yang bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Tools seperti blog, webpage, social networking system (friendster, facebook, tagged, dan lainnya), dan Content Management System (CMS) bisa digunakan untuk membantu meningkatkan kemampuan berbahasa siswa. Sehubungan dengan keterampilan menulis, salah satu media efektif yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam keterampilan menulis karena memiliki karakteristiknya yang relevan adalah media blog.

Blog (bentuk sederhana dari weblog) adalah sebuah halaman (situs) seseorang yang sering di update yang sering disebut dengan jurnal (diari) online. [1] Dewasa ini, blog berkembang sangat pesat seiring perkembangan TIK di Indonesia. Hampir semua orang memiliki blog, mulai dari artis, politikus, guru, dosen sampai mahasiswa karena proses membuatnya sangatlah mudah. Dengan memiliki blog yang juga berarti memiliki jurnal online, siswa dapat menulis apapun yang mereka senangi, dimana mereka bisa edit dan publikasikan sesering mereka mau, yang juga bisa menjadi media tagihan (sharing) bagi semua audiens, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, bahkan ke luar negeri yang tidak bisa dibayangkan mengingat jurnal tersebut bersifat online.

Blog sebagai wadah curahan ide dan tulisan siswa akan sangat bermanfaat bagi mereka karena blog sebagai media online mampu memberikan audiens riil bagi tulisan mahasiswa. Jika selama ini, guru adalah satu-satunya orang yang membaca tulisan siswa, dengan media blog, tulisan mereka dapat dibaca oleh teman-teman mereka, baik yang sekelas maupun di luar kelas, bahkan di tempat-tempat lain, orang tua mereka, dan mereka yang memiliki akses ke internet. Tanpa disadari, potensi audiens riil ini memberikan ‘tuntutan’ sekaligus kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan hasil karya mereka yang terbaik. Diharapkan hal ini juga akan memberikan motivasi yang lebih baik bagi peningkatan kompetensi menulis siswa.

Sehubungan dengan peningkatan kemampuan menulis, pemanfaatan media blog sangatlah sesuai dengan karakteristik pembelajaran menulis. Dengan blog, siswa bisa menulis apapun pada bagian blog yang telah ada, termasuk memberi tambahan penekanan atau informasi dengan media lain yang juga telah tersedia, seperti audio, video, atau link ke alamat laman (situs) relevan lainnya. Secara teknis, membuat blog tidaklah sulit, karena tidak memerlukan pengetahuan pemrograman dan sintaks yang rumit. Siswa hanya tinggal mengisi slot-slot yang sudah ada, seperti halnya mengetik, kemudian tinggal dipublikasikan dan blog mereka sudah bisa dilihat oleh seluruh orang di dunia. Jika ada kesalahan, hal tersebut bisa langsung diperbaiki. Jadi, membuat blog sangatlah mudah, sepanjang ada koneksi.

Dengan memanfaatkan blog sebagai media jurnal online dalam pembelajaran menulis, kompetensi menulis siswa dapat ditingkatkan. Peningkatan kompetensi ini diharapkan berimbas pada peningkatan kompetensi berbahasa siswa yang meliputi aspek-aspek keterampilan bahasa lainnya, yaitu menyimak, membaca, dan berbicara serta komponen-komponen bahasa, seperti pelafalan, struktur, pilihan kata, kosakata, dan lainnya. Dengan meningkatnya kemampuan berbahasa siswa, diharapkan kualitas pembelajaran dapat meningkat.

B. Kajian Teori

Pembelajaran Menulis

Pembelajaran menulis pada hakekatnya adalah suatu pembelajaran tentang bagaimana seseorang mengekspresikan ide dan perasaannya lewat media tulisan. [2] Melalui kegiatan menulis, seseorang juga bisa mengemukakan keperluannya, bisa merekam pikiran-pikirannya mengenai hal-hal yang penting atau kegiatan-kegiatan yang sifatnya pribadi dalam hidup mereka. Bahkan, menulis juga bisa dijadikan hiburan, dimana seseorang bisa mengkomunikasikan perasaan dan idenya kepada orang lain melalui media dan bentuk yang beragam, seperti surat, otobiografi, cerita, dan esai.

Terdapat banyak jenis karangan atau tulisan, seperti tulisan naratif, deskriptif, argumentatif, persuasif, dengan berbagai kelasnya, seperti klasifikasi, perbandingan, sebab akibat, dan lain-lain. Seluruh jenis tulisan tersebut harus dikuasai oleh siswa dimana mereka diharapkan mampu menunjukkan penguasaan akan jenis-jenis tulisan termasuk komponen kebahasaan lainnya. Dengan demikian, kemampuan siswa untuk mengungkapkan ide dan perasaan mereka akan bisa tersampaikan secara efektif kepada pembacanya.

Kompetensi Menulis

Menulis pada dasarnya tidak lain daripada pernyataan pikiran dan perasaan, baik mengenal benda atau keadaan yang nyata maupun yang diharapkan atau yang dicita-citakan, dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alatnya.

Finch dan Crunkilton [3] menyatakan bahwa kompetensi berarti penguasaan terhadap tugas, keterampilan, tingkah laku, dan penghargaan-penghargaan yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan atau suatu prestasi. Padmadewi[4] menambahkan bahwa kompetensi adalah kemampuan dalam mata kuliah dan mata praktikum yang harus dimiliki oleh lulusan; kemampuan yang harus dapat dilakukan oleh mahasiswa. Pada dasarnya, kedua pendapat tersebut memiliki ide yang sama tentang pengertian kompetensi yang pada intinya mengacu pada kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu berdasarkan suatu standar tertentu.

Definisi-definisi tersebut dapat dirangkum dua hal, yaitu, sebagai kemampuan siswa menguasai aspek-aspek keterampilan dan komponen bahasa, dan kemampuan siswa menghasilkan tulisan yang baik dan efektif berdasarkan prinsip kepaduan dan koherensi. Baik artinya paragraf tersebut merupakan suatu kesatuan yang padu dan koheren. Efektif dimaksudkan bahwa tulisan mereka nantinya mampu menarik perhatian pembaca sekaligus mampu menyampaikan pesan yang ingin dituangkan secara tepat dan baik. Kedua kemampuan di atas, tidaklah bisa dipisahkan mengingat keduanya merupakan satu kesatuan yang saling mendukung. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa, siswa akan bisa dikategorikan belum memiliki kompetensi yang cukup apabila mereka tidak menguasai kedua kemampuan tersebut dengan baik.

Fungsi Internet

Perangkat lunak yang mendukung internet menyediakan banyak pelayanan teknis. Pelayanan ini merupakan fungsi dasar internet. Sidharta (1996 : 9) mengemukakan bahwa fungsi dasar internet adalah untuk :

a.    Pelayanan mail (SMTP : Simple Mail Transfert Protocol), yaitu pelayanan untuk mengirim dan menerima pesan-pesan. Setiap pesan dikirim dari satu sistem ke sistem yang lain. Di belakang layar, pelayanan mail memastikan bahwa pesan-pesan dikirim dan diterima secara lengkap pada alamat yang benar. Apabila terjadi kesalahan, pengirim akan menerima pesan yang menunjukkan bahwa pesannya belum atau tidak dapat diterima oleh si penerima pesan.

b.    Pelayanan telnet (HTTP : Hyper Text Transfert Protocol) yaitu pelayanan yang memberi kesempatan kepada pemakai internet untuk menghubungi suatu sistem yang terletak di tempat yang jauh.

c.    Pelayanan FTP (File Transfert Protocol), yaitu pelayanan yang memberikan kesempatan kepada pemakai internet untuk mentransfer file dari satu sistem ke sistem yang lain. Proses ini disebut juga sebagai downloading.

d.    Pelayanan client/server, yaitu suatu sistem yang didukung oleh program server. Misalnya : Gopher, white pages, yellow pages, dll.

Perkembangan Blog

Bentuk blog mulai muncul sekitar tahun 1993. Situs web The National Center for Supercomputing Application (NCSA)-Pusat Supercomputing Amerika Serikat-yang beralamat http://archive.ncsa.uiuc.edu/SDG/Software/Mosaic/Docs/old-whats-new-0693.html, memiliki situs berbentuk blog. Halaman situs web itu menampilkan hal-hal baru di situs web NCSA.

Salah satu blogger (sebutan untuk orang yang membuat blog) bangkotan yang terkenal adalah Justin Hall. Bahkan oleh Majalah New York Times, pria kelahiran Chicago, 16 Desember 1974, ini disebut sebagai penemu blog personal (the founding father of personal blog). Hall membuat situs web Links from the Underground yang beralamat www.links.net pada tahun 1994. Tahun 1993 dan 1994, istilah weblog dan blog belum dikenal. Istilah weblog dibuat oleh John Barger (www.robotwisdom.com) ditahun 1997.

Istilah blog kemudian dibuat oleh Peter Merholz (www.peterme.com). Dengan maksud bercanda, pada pertengahan 1999, Merholz memecah weblog menjadi we blog. Kata itu kemudian diadopsi sebagai kata benda dan kata kerja. Sebagai kata benda, blog berarti, situs website yang berlandaskan blog. Sedangkan sebagai kata kerja, blog berarti membuat weblog.

Awal 1999, penggunaan blog di Internet sudah mulai menjamur. Sebagai contoh, seperti tertulis di Wikipedia, situs web Xanga (www.xanga.com) yang diluncurkan tahun 1996 cuma melayani 100 diari pada tahun 1997. Akan tetapi, pada Desember 2005, Xanga melayani lebih dari 50 juta diari. Merebaknya penggunaan blog itu kemudian memicu munculnya perangkat-perangkat untuk ngeblog. Tahun 1999, programmer asal Amerika Serikat Brad Firzpatrick, membuat LiveJournal (www.livejournal.com). Kira-kira pada waktu yang nyaris bersamaan, Evan Williams dan Meg Hourihan-keduanya dari Pyra Labs-membuat Blogger (www.blogger.com). Tahun 2003, Blogger dibeli oleh Google. Hingga sekarang, jumlah blog terus bertambah. Berbagai topik diangkat, tergantung minat si blogger(PC+).

Media Blog (Jurnal Online) sebagai Media Pembelajaran Menulis

Menurut Rouf dan Sopyan (2007), blog adalah suatu laman (situs) online yang berfungsi sebagai media jurnal/diari bagi seseorang. Jovan (2007) menambahkan bahwa blog adalah “a personal diary, a daily pulpit, a collaborative space, a political soapbox, a breaking-news outlet, a collection of links, one’s own private thoughts, and memos to the world.”  Definisi blog menurut Webopedia (www.webopedia.com) adalah suatu halaman web berisi jurnal yang merefleksikan personaliti pembuatnya dan bisa diakses oleh orang banyak. Menurut Webopedia, blog biasa di-uptade setiap hari.

Di Wikipedia, blog dijelaskan sebagai tipe situs web yang isinya seperti jurnal, diurutkan terbalik secara kronologis. Isinya adalah komentar atau berita tentang subjek tertentu, mulai dari hal-hal “berat” seperti politik sampai yang “ringan” seperti makanan.

Blog, seperti dijelaskan di Wikipedia, bisa berisi teks, gambar, link ke blog lain, atau media lain yang memiliki hubungan dengan yang sedang dibicarakan. Suatu blog bahkan bisa berisi kombinasi teks, gambar, dan media lain.

Graham[8] (2005) menyatakan bahwa membuat blog tidaklah sulit karena hanya memerlukan pemahaman sederhana mengakses internet, sama mudahnya untuk membuat dan mengirim e-mail. Membuat blog tidaklah memerlukan pemahaman akan bahasa pemrograman atau sintaks-sintaks pemerograman yang rumit karena semua sudah dikerjakan oleh sistem. Yang harus dilakukan hanya menulis dan mempublikasikannya langsung.

Blog dengan berbagai jenis dan variasi fiturnya telah banyak menarik minat orang untuk memanfaatkannya dalam pembelajaran di kelas, blog mampu menjadi media yang sangat berguna untuk pembelajaran menulis. Jati  (2006: 2) mengatakan bahwa:

“By utilizing free blogging services on the Internet, teachers are capable of creating and storing online supplemental materials for students, post class notes for student review, and give general feedback to the class as whole and individually. Additionally, students are able to submit assignments online.”

Educational Blogger Network dalam “use weblog technology for the teaching of writing and reading across the disciplines”[10] (eBn, 2003) menambahkan bahwa blog telah mampu merambah segala bidang, mulai jurnalisme, politik, hiburan, dan pendidikan, dari pendidikan awal sampai lanjutan. Meskipun masih berupa embrio, namun ide tersebut menyimpan potensi untuk berkembang lagi.

Sehubungan dengan penggunaan bantuan teknologi Pederson dan Bonnstetter (1990) menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi mampu meningkatkan motivasi belajar sehingga membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna. Dengan demikian, pemanfaatan blog sebagai wadah atau media jurnal online dalam pembelajaran, khususnya keterampilan menulis sangatlah dimungkinkan mengingat. Banyak hal yang bisa ditaruh dalam blog. Menariknya, blog juga memberikan kesempatan bagi penggunanya untuk menaruh suara, video, gambar, dan lainnya. Semua hal tersebut mudah untuk dilakukan.[12] (http://www.blogger.com, 2007). Melalui media blog, seseorang dapat mengumpulkan dan membagi hal-hal yang menarik, entah itu komentar politik, diari, atau link ke laman (situs) lain yang relevan. Ide dari pembuatan blog sebenarnya tidak hanya untuk mengungkapkan ide, perasaan, dan pengalaman, namun juga untuk mendapatkan respon dari pengguna blog yang memiliki tujuan sama. Hal inilah yang sangat menarik juga dari blog, karena orang-orang di seluruh dunia bisa melihat, memberi komentar, mengambil (jika dibuat seperti itu) hal-hal yang mereka anggap perlu. Hal inilah yang membuat “dunia blog” sangat dinamis dan atraktif  (Wang dan Fang, 2006).

Rouf dan Sopyan  (2007) menyatakan bahwa terdapat tiga jenis blog, yaitu:

  • Blog Tutor. Blog ini dijalankan oleh dosen di kelas. Isi dari blog ini biasanya terbatas pada silabus, informasi mata kuliah, pekerjaann rumah, dan lainnya. Atau, dosen bisa menulis mengenai ide, perasaan, dan pengalaman dirinya untuk kemudian bisa dibagi dilihat dari berbagai perspektif, seperti budaya, pemberian informasi, dan hal lainnya. Tipe blog ini membatasi ruang gerak mahasiswa untuk lebih berkreasi.
  • Blog Kelas. Blog ini memiliki karakteristik ‘agihan’ (share) dimana dosen dan mahasiswa bisa menyumbangkan ide dan pengalamannya. Blog jenis ini sangat baik digunakan sebagai ruang diskusi kolaboratif bagi dosen dan mahasiswa. Mahasiswa diberikan kebebasan yang lebih untuk menulis dan berinteraksi dalam blog jenis ini.
  • Blog Mahasiswa.  Blog jenis ini sebenarnya memerlukan lebih banyak waktu dan usaha dari dosen untuk mengatur dan menyusun segala hal yang diperlukan, namun mungkin merupakan yang paling baik bagi mahasiswa dilihat dari kesempatan yang diberikan untuk menulis, mengekspresikan ide, perasaan, dan pengalaman mereka. Mahasiswa akan memiliki blog mereka sendiri dan biasanya mereka akan memerikan yang terbaik bagi milik mereka sendiri.

Pembahasan

Membuat Website Blog dengan http://www.wordpress.com

Ada banyak alternatif layanan pembuatan website, salah satu yang terpopuler adalah wordpress (http://www.wordpress.com) dan blogger (http://www.blogger.com). Mengapa memilih http://www.wordpress.com? WordPress menyediakan beberapa menu yang menarik dan cukup mudah untuk mengoperasikannya serta dilengkapi fasilitas free (gratis dalam membuat situs blog). Dengan bandwith + 50 Mb, menjadikan wordpress banyak diminati. Di samping penyediaan kapasitas yang besar, tersedia juga feature tambahan dan template, tanpa iklan, dan yang menarik adalah user dapat update dalam bentuk teks maupun gambar sekaligus, yaitu dengan copy – paste, dan hasilnya dapat dilihat langsung di internet. Tidak mengherankan kalau wordpress dimanfaatkan sebagai “catatan harian” (diary) oleh user, sehingga sesama pembuat blog dapat tukar informasi atau sebagai ajang unjuk berkomunikasi. Tidak hanya itu saja, fasilitas ini juga dapat digunakan sebagai media untuk belajar, memasukkan ideologi, karya monumental, dan sejenisnya baik bermakna positif maupun negatif, tergantung user blog, ikuti langkah-langkah sebagai berikut.

1. Pastikan anda telah membuka situs wordpress di http://www. wordpress.com, ingat jangan sampai salah mengetikkan pada alamatnya.

2. Inilah tampilan http://www.wordpress.com, selanjutnya buat account baru, dengan cara klik “Sign Up Now!”,

Berbeda dengan edisi sebelumnya, yaitu ketika user membuka www.wordpress.com langsung dihadapkan pada pilihan “Start your free WordPress blog”, yang mana www.wordpress.com memberikan layanan gratisan dalam membuat website blog.

3. Langkah selanjutnya adalah isi form registrasi yang telah disediakan www. wordpress.com

Masukkan username serta e-mail Anda. Anda tidak boleh mengarang, e-mail yang dibutuhkan adalah yang masih aktif, contoh: janky_04@yahoo.com.

Di bawah e-mail address, akan muncul agreement, yaitu dengan memberi tanda [√] pada kotak yang tersedia di depan “I have read and agree to the fascinating term of service”. Setelah memberi tanda setuju, anda dapat melanjutkan perintah pengisian form selanjutnya dengan mengklik next.

Namun demikian, adakalanya ketika Registrasi terdapat peringatan bahwa username maupun e-mail address yang dimasukkan salah atau kebetulan telah digunakan user lain. Registrasi yang salah/telah dipakai user lain pasti dihighlight yang mempermudah user untuk membetulkan. Ketentuan pengisian username minimal 4 karakter (bisa huruf maupun angka).

Dan ketika Registrasi diterima, maka yang muncul adalah anda diminta untuk memberikan nama pada title blog anda. Title dapat dilihat manakala blog anda sudah on-line, yaitu sebagai header blog. Dalam contoh ini adalah Nailim sebagai title blognya.

Dengan meng-klik Signup, anda telah berhasil melakukan Registrasi, dan akan nampak pada halaman selanjutnya, perintah untuk memeriksa keaktifan e-mail anda, sebagaimana gambar berikut.

Sementara menunggu (+ 30 menit) perintah selanjutnya, e-mail anda harus masih diaktifkan, karena melalui e-mail anda tersebut, pihak www. wordpress.com akan memberikan tanda kesepakatan (agreement acceptance) sekaligus password pribadi anda. Langkah selanjutnya adalah mengaktifkan Registrasi, dengan cara klik http://www.wordpress.com/activate/…….

Langkah berikutnya adalah melihat dan mencatat username anda sendiri serta password yang telah diberikan pihak www.wordpress.com.

Namun pada edisi revisi kali ini, ketika user sudah sign up, maka pihak www.wordpress.com akan memberikan pernyataan bahwa “your account is now active!”. Di sinilah user diminta untuk memeriksa email-nya, karena username, password, dan beberapa link penting akan diberitahukan melalui email tersebut.

4. Walaupun resigistrasi sudah berhasil, namun perlu dicek hasil Registrasi tersebut, yaitu pada www.izza2004.wordpress.com secara langsung yang diberikan oleh www. wordpress.com tentang bisa/tidaknya aktivasi blog yang sudah dibuat, yaitu dengan cara login.

5. Ketika anda meng-klik www.izza2004.wordpress.com., maka akan muncul halaman, yang untuk membukanya diharuskan login sesuai dengan username, misalnya username: izza2004; password: ie90s6. Kalau anda susah mengingat password yang diberikan oleh www.wordpress.com, alangkah baiknya anda mengganti sendiri dengan klik “up date your profile or change your password”.

6. Ketika login berhasil, maka akan muncul halaman baru yang menyuguhkan menu di taskbar, yaitu my account, my dashboard dan new post.

7. Dengan kehadiran 3 menu tersebut, anda bebas memilih. Untuk menyajikan suguhan supaya dapat dinikmati teman atau orang lain di dunia, maka anda cukup klik my dashboard, di sana akan muncul beberapa menu, yaitu dashboard, write, manage, comments, blogroll, presentation, users, option, dan upgrades.

8. Beberapa menu tersebut akan menjawab pertanyaan besar anda, mengapa web saya masih mulus? Supaya teman anda tidak kecewa dengan kekosongan web anda karena kering informasi maupun animasi gambar, klik write untuk membuat menu yang dapat dinikmati oleh teman, misalnya anda ingin mempublikasikan siapa diri anda, ketik my profile di bawah tulisan categories, lalu klik add>>, seketika itu di bawahnya akan muncul my profile. Untuk mengaktifkannya, anda cukup mencawang my profile dan pada sisi kiri, anda dapat memberi judul pada menu title, dan dapat memberikan isi pada menu post. Untuk mengetahui hasil dari profile anda, cukup dengan klik save dan publish, maka anda dapat melihat hasilnya dengan klik view site di menu taskbar.

Web yang isinya teks saja, akan terkesan kering dan statis, maka anda dapat menambah gambar, video, dan sebagainya. Cara anda persiapkan dulu file yang akan dipadukan dengan teks tersebut, setelah filenya siap, anda cukup klik browse pada menu write. Browse akan mencari di mana letak file yang anda simpan dan siap dieksekusi, supaya anda tidak lupa dengan file yang anda gunakan, maka anda dapat memberikan nama pada title tersebut. Setelah file selesai dieksekusi, klik upload.

Dengan demikian halaman web di atas tidak hanya teks yang terlihat, namun ada gambar yang dapat dinikmati. Untuk melihat hasil dari upload gambar tersebut, dapat meng-klik menu view site.

Dengan demikian, ketika teman anda atau orang lain mau mengakses web anda, di halaman pertama sudah disuguhkan informasi serta visualiasasi gambar.

Nah…..sekarang Web anda sudah dapat dinikmati teman anda maupun orang lain. Namun demikian perlu diingat bahwa jangan pernah lupa sign out, manakala anda telah selesai mengupload atau memanage website anda, dengan sign out halaman web anda akan aman dari orang yang tidak bertanggung jawab, yaitu dengan telah tertutupnya halaman web anda.

Penutup

Teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan dalam segala bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Melalui produknya manusia mampu mengubah perilaku hidupnya dan pola berpikirnya, baik secara positif maupun negatif sehingga tercipta berbagai perilaku dan pola berpikir, misalnya, perilaku tidak mau tertinggal, ingin cepat, toleran, berpikir kritis, dan kreatif. Perilaku dan pola berpikir tersebut dapat dimaknai secara positif dan negatif. Oleh itu, penggunaan teknologi informasi yang tepat merupakan suatu keterampilan yang sangat diperlukan untuk saat ini.

Pembelajaran yang mengarah pada penumbuhan perilaku positif dan pola berpikir kritis dan kreatif perlu dirancang secara kreatif oleh para guru atau dosen. Dengan demikian, inovasi-inovasi dalam bidang pendidikan dan pembelajaran dapat dihasilkan. Melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi pendidikan di Indonesia dapat menuju era pendidikan modern dengan tetap menunjukkan keindonesiaan.

SIMPULAN DAN SARAN

Dalam era globalisasi dewasa ini, TIK berkembang dengan pesat di berbagai bidang, salah satunya pada bidang pendidikan. Seiring dengan perkembangan dan tuntutan jaman, seseorang dituntut untuk mampu dan memiliki kualitas serta kemampuan kompetitif dalam hidupnya. Dalam bidang pendidikan, tuntutan semacam ini membuat berbagai hal, tantangan sekaligus kesempatan untuk berkembang dan berkreasi. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah salah satu dalam bidang pendidikan yang menuntut hal seperti ini.

Keterampilan menulis adalah salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai dengan baik oleh seseorang yang belajar bahasa dan sastra Indonesia. Dengan memiliki kemampuan menulis; menuangkan ide dan pikiran dalam tulisan dengan baik dan efektif, seseorang dapat dikatakan telah mampu memanfaatkan peluang sekaligus mengatasi tantangan. Namun, kegiatan menulis tidaklah semudah yang dibayangkan jika dilakukan tidak dengan suatu proses dan jika memungkinkan, pemanfaatan suatu media inovatif. Salah satu media yang bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran menulis adalah media blog atau jurnal online.

Sederhananya, blog adalah sebuah halaman web seseorang yang sering di update yang sering disebut dengan jurnal online. Blog atau jurnal online diyakini dapat membantu siswa menulis apapun yang mereka senangi, dimana mereka bisa edit dan publikasikan sesering mereka mau, yang juga bisa menjadi media tagihan (sharing) bagi semua audiens, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, bahkan ke luar negeri yang tidak bisa dibayangkan mengingat jurnal tersebut bersifat online. Sehubungan dengan peningkatan kemampuan menulis, pemanfaatan media blog sangatlah sesuai dengan karakteristik pembelajaran menulis. Siswa bisa menulis apapun pada bagian blog yang telah ada dan informasi lainnya di slot lainnya yang tersedia.

Dalam penerapannya, satu hal yang paling penting diingat untuk dilaksanakan adalah adanya proses menulis, mulai dari pembuatan outline, revisi, pembuatan draft tulisan, revisi, sampai suatu tulisan final bisa dihasilkan. Sehubungan dengan pemanfaatan blog sebagai media jurnal online dalam pembelajaran menulis adalah 1) pembuatan blog, 2) proses membuat outline, 3) proses membuat draft, 4) proses revision, dan 5) proses publikasi ke media blog (jurnal online).

Beberapa keuntungan dari pemanfaatan blog dalam pembelajaran menulis adalah bahwa blog mampu memberikan audiens riil bagi tulisan iswGurua. , bersama-sama dengan teman-teman mereka, baik yang sekelas maupun di luar kelas, bahkan di tempat-tempat lain, orang tua mereka, dan mereka yang memiliki akses ke internet bisa melakukannya. Tanpa disadari, potensi audiens riil ini memberikan ‘tuntutan’ sekaligus kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan hasil karya mereka yang terbaik. Diharapkan hal ini juga akan memberikan motivasi yang lebih baik bagi peningkatan kompetensi menulis siswa. Selain mampu memberikan audiens yang nyata dan potensial untuk perbaikan tulisan pembelajar, blog juga diyakini dapat memberikan nuansa inovasi, eksplorasi, dan kreasi yang lebih baik bagi tulisan mahasiswa. Juga, blog mampu memberikan interaksi yang lebih dinamis, kemampuan literasi yang lebih baik, bahkan perkembangan bekerja dalam tim.

Mengingat keuntungannya, disarankan bahwa pengajar pembelajaran menulis, baik tataran paragraph sampai pembuatan esai atau report, bisa memanfaatkan media blog atau jurnal online dalam kegiatan menulisnya. Kegiatan menulis dengan memanfaatkan blog mesti memperhatikan tahapan-tahapan aktivitas menulis sehingga hasil yang lebih optimal bisa tercapai. Jika memungkinkan atau diharuskan, modifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu bisa dilakukan.

Namun, perlu juga diperhatikan bahwa proses atau kegiatan menghasilkan suatu tulisan yang baik tidaklah mudah, bahkan dengan menggunakan media apapun. Dengan demikian, diusahakan agar pemanfaatan media ini dalam pembelajaran menulis tidak sampai memberatkan, misalnya dari segi teknis aplikasi TIK, segi situasi kelas, jumlah kelas, jumlah siswa yang diajar, akses dan fasilitas, dan sebagainya. Pengajar mesti memahami betul teknis pengelolaan dan pemanfaatan aplikasi TIK agar tidak menyulitkan. Hal ini mungkin terjadi karena keterbatasan sebagai manusia. Dari segi situasi kelas dan siswa, diharapkan agar proporsional sehingga tidak memberatkan, utamanya dalam proses umpan balik dan koreksi karena gabungan kegiatan face to face (FTF) dan online bisa membantu atau memberatkan. Hal-hal tersebut, jika diantispasi dari awal, tentu akan sangat membantu pencapaian kualitas pembelajaran menulis yag lebih baik. Demikian juga, prestasi dan motivasi siswa diyakini akan dapat ditingkatkan.

DAFTAR PUSTAKA

eBn – the Educational Blogger Network. (2003, February 5). Bay Area Writing Project News. From http://www.bayareawritingproject.org/bawpNews/2003/02/05

Finch dan Crunkilton dalam E. Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Cetakan  Ketiga. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

I.N. Padmadewi. 2004. Authentic Assessment (Pengukuran Otentik). Singaraja: IKIP Negeri Singaraja.

Jati, A. G. 2006. Creating a Writing Course Utilizing Class and Student Blogs. ITB Language Centre.

Jovan, F. N. 2007. Panduan Praktis Membuat Web dengan PHP. Jakarta: Media Kita.

Lani Sidharta. 1996. Internet : Informasi Bebas Hambatan. Jakarta : Gramedia. Hlm. 9.

Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Cetakan Ketiga. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Padmadewi, I.N. 2004. Authentic Assessment (Pengukuran Otentik). Singaraja: IKIP Negeri Singaraja.

Rainey, M.C. 2003. Expression: An Introduction to Writing, Reading, and Critical Thinking. USA: Longman, Inc.

Sei-Hwa, J. 2006. The Use of ICT in Learning English as an International Language. Tersedia di http://hdl.handle.net/1903/3885. Diakses pada October 15th 2007.

Wang, J. and Fang, W. 2006. Benefits of Cooperative Learning in Weblogs Networks. Tersedia di http://www.google.com. Assessed on August 30th 2007.

33


Rouf, I and Y. Sopyan. 2007. Panduan Praktis Mengelola Blog. Jakarta: Media Kita..

Rainey, M.C. 2003. Expression: An Introduction to Writing, Reading, and Critical Thinking. USA: Longman, Inc. hlm. 2.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2011 in MATA KULIAH ICT, TUGAS MATA KULIAH ICT UAS

 

Tag:

Sampingan

DESAIN PEMBELAJARAN MEMBACA PUISI

DESAIN PEMBELAJARAN MEMBACA PUISI

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 28, 2011 in Ketrampilan Membaca Sastra

 

Tag:

Sampingan

COMPUTER  ASSISTED LANGUAGE LEARNING  (CALL)


Pembelajaran Bahasa Berbasis Web (CALL)

 
 

Tag:

Galeri

MEMOMPA TEKNIK PENGAJARAN SEBUAH LANDASAN PSIKOLOGIS

 

 

 

 

 

MEMOMPA TEKNIK PENGAJARAN SEBUAH LANDASAN PSIKOLOGIS

1. Pendahuluan

Guru merupakan figur pengganti orang tua ketika anak-anak di sekolah, yang memberikan andil yang besar dalam tumbuh  kembang anak-anak, guru akan memberikan perlindungan, pengajaran dan kebiasaan-kebiasaan  baru yang mendukung. Guru merupakan pelaku utama dalam pendidikan, selain peserta didik. Pendidik (baca: Guru) yang baik adalah yang memiliki kemampuan atau kompotensi yang bisa diberikan kepada anak didik. Pendidik merupakan sosok yang memiliki kedudukan yang sangat penting bagi pengembangan segenap potensi peserta didik. Ia menjadi orang yang paling menentukan dalam perancangan dan penyiapan proses pendidikan dan pembelajaran di kelas, paling menentukan dalam pengaturan kelas dan pengendalian siswa, serta dalam penilaian hasil pendidikan dan pembelajaran yang dicapai siswa.

Pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri (self-directed learning). Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri. Galileo menegaskan bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan apapun, kita hanya dapat membantu peserta didik untuk menemukan dirinya dan mengaktualisasikan dirinya. Setiap pribadi manusia memiliki self-hidden potential excellece (mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri), tugas pendidikan yang sejati adalah membantu peserta didik untuk menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin.

Sebuah ungkapan tersohor ” Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari “. Ungkapan tersebut menurut sebagian masyarakat menggambarkan sesuatu yang memiliki tanggungjawab terhadap segala kebaikan dan kejelekkan wujud prilaku manusia. Sebagian masyarakat mengangap sesuatu yang sangat berjasa dan digolongkan pada tokoh-tokoh mulia, sehingga apapun yang diperbuat sang guru akan membangun prilaku manusia. Sebagian masyarakat yang lain juga memberikan anggapan bahwa pembelajaran yang disampaikan oleh sang guru berupa apapun akan memberikan pengaruh terhadap semua murid-muridnya. Terlepas dari pengertian ungkapan itu, semua manusia pasti mengenal guru, bahkan sampai-sampai pengalaman juga merupakan guru. Guru bisa hadir dihati melalui sentuhan-sentuhan rasa, cipta dan karsa yang tertuang dalam  hasil karya. Guru bisa hadir ditelinga kita melalui cerita-cerita, dongeng, hikayat dan lain-lain. Guru bisa kita pandang sebagai wujud, sosok bahkan tokoh yang kita kagumi. Guru dan pembelajaran ibarat sebuah sisi-sisi mata uang logam. Walaupun berbeda namun tidak dapat dipisahkan.

Bagi pendidik yang baik, idealnya mengetahui karakter kepribadian yang menjadi peserta didik. Setiap orang yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, sebagai pendidik seperti guru, dosen, maupun dalam kapasitas sesaat seperti sebagai pengarah, penceramah, penatar, dsb, sebaiknya mengetahui siapa yang dihadapi. Begitu juga dalam kehidupan di masyarakat, baik sebagai tokoh masyarakat, pimpinan organisasi, bahkan dalam cakupan kecil seperti sebagai orangtua yang setiap hari harus menghadapi anak, mau tidak mau harus melaksanakan tanggung jawab dan peran sebagai pendidik yang harus tahu karakter anak-anaknya.

Perlu diketahui bahwa tingkat intelektual seseorang, entah itu siswa di sekolah maupun anak-anak kita di rumah, kondisinya tentu berbeda-beda. Ada yang lemah dalam suatu bidang tetapi unggul dalam bidang lainnya. Misal ada yang jago hitung-hitungan, jago hapalan, suka kreativitas dan ada juga yang suka berorganisasi. Dengan mengetahui itu setidaknya menjadi bekal untuk memunculkan potensi mereka. Sehingga, pendidik dipacu untuk menciptakan suasana belajar yang baik. Faktor pendidik sangat penting lantaran pendidiklah yang merupakan tokoh sentral selain harus mampu menghadapi setiap individu siswa, juga harus memiliki kepekaan. Itu karena pendidik merupakan fasilitator yang mestinya menyediakan suasana yang menyenangkan. Dengan begitu peserta didik berhasil mengembangkan potensinya.

2. Cara Pandang dan Dunia Profesi Guru

Guru adalah seorang pemimpin di dalam kelas. Dalam pendidikan tradisional guru dapat dibilang pemimpin tunggal dan mempunyai otoritas penuh. Akan tetapi, di era sekarang keber-adaan guru di dalam kelas sudah berubah, ia tidak menjadi pemimpin tunggal, melainkan hendaknya melibatkan yang lain atau siswa untuk bersama-sama dalam menciptakan manajemen kelas yang kondusif.

Dahulu proses pembelajaran memang didominasi guru (Teacher Centered). Pada banyak kesempatan, para guru sering berkomentar murid adalah seseorang yang ha-rus tunduk dan patuh pada keinginan-keinginan guru, tugas guru adalah mengajar , murid belajar, guru tahu segalanya murid tidak tahu apa-apa, guru berpikir  murid dipikirkan , guru bebas memilih apa yang diajarkan, murid menyesuaikan diri, guru   adalah subjek proses belajar, murid hanya objeknya. Sedangkan paradigma sekarang sudah bergeser pada dominasi siswa (Children Centered). Sebagaimana dalam strategi CBSA dengan konsepnya Student Centered Instruction (pembelajaran terpusat pada siswa). Belajar tuntas (Mastery Learning) dalam program pengayaannya yang berben-tuk tutorial.

Paradigma para guru harus mengalami pergeseran secara mendasar dalam proses mengajar dan memandang dirinya dalam profesi. Dunia telah begitu berubah secara drastis sehingga diperlukan suatu reformasi radikal dalam sistem persekolah-an jika kita ingin terlibat dalam kehidupan abad 21, kita perlu segera mengganti model belajar yang berpusat pada guru dengan model belajar aktif dan mandiri ber-dasarkan prinsip-prinsip ilmu kognitif modern (Indra Jati Sidi, 2001: 6).

Makna guru atau pendidik sebagaimana dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003, Bab 1, Pasal 1, Ayat 6 adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya , serta berpartisipasi dalam menye-lenggarakan pendidikan (UURI, 2003 : 5).

Makna tersebut dapat dipahami secara universal, maksudnya setiap kegiatan pembelajaran, baik yang terancana maupun tidak tentunya membutuhkan seorang pembimbing yang langsung dan tidak langsung. Atau dapat dikata bahwa proses pembelajaran dalam masyarakat terdapat istilah learning cultures, yakni masyarakat belajar dengan cara tidak resmi sebagaimana kehidupan rutin sehari-hari dan teaching cultures yaitu  masyarakat mendapat pelaj aran secara resmi dari warga lain yang lebih tahu. Makna guru atau pendidik pada prinsipnya tidak hanya mereka yang mempunyai kualifikasi keguruan secara formal diperoleh dari bangkau sekolah perguruan tinggi; melainkan y-ang terpenting adalah mereka yang mempunyai kompetensi keilmuan tertentu dan dapat menjadikan orang lain pandai d.alam matra kognitif, afektif dan psikomotorik. Matra kognitif menjadikan peserta didik cerdas intelektualnya, matra afektif menjadikan siswa mempunyai sikap dan perilaku yang sopan, dan matra psikomotorik menjadikan siswa terampil dalamuan pokok pendi-dikan itu sendiri.

Menurut Rusli Lutan (1994) mengemukakan bahwa “pendidikan pada hakekatnya tetap sebagai proses membangkitkan kekuatan dan harga diri dari rasa ketidakmampuan, ketidakberdayaan, keserba kekurangan”.

Djuju Sudjana (1996:31) tentang modal itu dalam dirinya sendiri yang tersirat dalam “human capital theory”, bahwa manusia merupakan sumber daya utama, berperan sebagai subyek baik dalam upaya meningkatkan tarap hidup dirinya maupun dalam melestarikan dan memanfaatkan lingkungannya. Menurut teori-teori ini konsep pendidikan harus dirasakan atas anggapan bahwa modal yang dimiliki manusia itu sendiri meliputi : sikap, pengetahuan, keterampilan dan aspirasi. Dengan perkataan, “modal utama bagi kemajuan manusia tidak berada di luar dirinya melainkan ada dalam dirinya, dan modal itu sendiri adalah pendidikan.

Menurut George F. Knelled Ledi dalam bukunya yang berjudul Of Education (1967:63), pendidikan dapat dipandang dalam arti teknis, atau dalam arti hasil dan arti proses. Dalam artinya yang luas pendidikan menunjuk pada suatu tindakan atau pengalaman yang mempunyai pengaruh yang berhubungan dengan pertumbuhan atau perkembangan jiwa (mind), watak (character), atau kemampuan fisik (physical Ability) individu, pendidikan dalam arti ini berlangsung terus menerus (seumur hidup) kita sesungguhnya dan pengalaman seluruh kehidupan kita (George F. Knelled, 1967:63) dan pendidikan, Demands A. kualitative concept of experience (Frederick Mayyer, 1963:3-5).

Selanjutnya menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk emmiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian dirinya, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.

Sebagai pendidik, guru mempunyai tugas yang sangat signifikan untuk menjadikan anak didik mampu mengembangkan potensinya. Tugas guru sangat banyak, baik yang terikat dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Tugas di luar kedinasan dapat dikatakan sebagai tugas pengabdian, yang tidak terbatasi oleh ruang lingkup waktu dan tempaG, Tugas ini meliput; profesi, kemanusiaan dan kemasyarakatan (Drs. Thoifuri, 2002 : 5).

Guru merupakan profesi atau jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus. Jenis pekerjaan ini di luar bidang kependidikan, walaupun kenyataannya masih dilakukan.         Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik juga berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar pun berarti meneruskan dan mengem­bangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun melatih, berarti mengembangkan keterampilan­keterampilan pada siswa (Asef Umar Fakhrudin, 2009 : 74).

Tugas guru sebagai profesi, berarti mendidik untuk meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup peserta didik dan masyarakatnya. Dan mengajar untuk meneruskan mengem-bangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Serta melatih untuk mengembangkan keterampilan, keahlian dan menerapkannya. Tugas guru profesi ini menuntut adanya profesional dan profesionalisasi. Profesional merupakan keahlian yang dimiliki seorang guru sebagi bukti kom-petensinya untuk melayani dan membuat orang lain menjadi lebih baik. Sedangkan profesionalisasi adalah usaha untuk selalu meningkatkan potensinya tanpa terbatasi oleh tempat dan waktu (Drs. Thoifuri, 2002 : 4).

Seorang guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah dituntut untuk dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. la pun dituntut mampu menarik simpati sehingga menjadi idola para siswanya. Pelajaran apa pun yang diberikan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswanya untuk terus belajar. Bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, hal ini menjadi salah satu awal kegagalan dalam proses pembelajaran. Selain itu, kegagalan lain yang mungkin terjadi adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya itu kepada para siswanya dengan efektif.

Para siswa akan enggan menghadapi guru yang tidak menarik perhatian mereka. Alhasil, pelajaran tidak dapat diserap para siswa sehingga setiap lapisan ilmu tidak bisa dikaji lebih mendalam. Para siswa menjadi apatis dengan apa yang disampaikan oleh guru. Tidak mengherankan jika banyak murid yang melampiaskan keengganan dan keapatisan tersebut .kepada hal-hal dan aktivitas yang tidak baik. Senyatanya, saat ini telah banyak rakyat yang sadar terhadap peran dan profesi guru. Sekarang ini,masyarakat menempatkan guru pada tempat yang terhormat di lingkungannya karena seorang guru kandang mampu memberikan sesuatu yang baru dan manfaat kepada masyarakat. Pada titik ini, secara langsung dan tidak langsung, seorang guru berkewaj­iban berusaha untuk mencerdaskan rakyat dengan bimbingan-bimbingan dan arahan-arahan yang diberikan.

Tugas guru sebagai kemanusiaan, berarti guru disamping mendidik dan mengajar, juga sebagai orang tua pada anak didik dan masyarakatnya. Guru hendaknya dapat menjelma sebagai seorang diri yang homoludens, homopuber dan homosapiens. Tugas kemenusiaan ini mengingatkan kepada guru bahwa ia hidup ditengah masyarakat dan dipandang mempunyai kelebihan dari pada manusia berprofesi lainnya. Dengan demikian, guru hendaknya lebih arif atau bijaksana dalam memperlakukan manusia lain sebagaimana memperlakukan dirinya sendiri

Tugas dan peran guru sendiri tidaklah terbatas di dalam masyarakat di mana sang guru berada, sebab seorang guru pada hakikatnya merupakan pribadi dan komponen strategis yang memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa, sehingga la harus bisa bersinergi dengan siapa pun selama bertujuan memberikan kebaikan dan manfaatan kepada orang lain dan juga semesta. Bahkan, keberadaan guru merupakan sebuah keadaan yang niscaya adanya tidak mungkin digantikan oleh pribadi dan komponen apa pun dan mana pun dalam kehiidupan ini, terlebih pada era kontemporer ini. Keberadaan guru bagi suatu bangsa dan peradaban amatlah penting. Apalagi, bagi suatu bangsa yang sedang membangun dan berkembang. Dan, terlebih bagi terhadap keberlangsungan hidup bangsa ditengah-tengah lintasanperjalanan teknologi yang kian canggih dan segala perubahan serta pergeseran nilai.

Tugas kemasyarakatan berarti guru harus mampu mencerdaskan bangsa Indonesia, dan mampu mendidik serta mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara Indonesia yang bermoral Pancasila. Tugas kemasyarakatan ini lebih menekankan pada upaya guru dalam membimbing warga sekitarnya untuk peka terhadap nasib kemiskinan intelektual. Jadi guru hendaknya, sedih manakala melihat warga lingkungannya masih banyak yang bodoh. Bodoh dapat demaknai tidak bisa baca-tulis, suka konflik tanpa alasan yang jelas dan benar, sulit menerima kebenaran, suka melanggar aturan yang dibuat sendiri.

Memahami tugas guru di atas, maka guru harus mencerminkan orang dewasa, ber-tanggunjawab terhadap keberhasilan siswanya. Guru yang tidak mampu mengantarkan keberhasilan tersebut dapat dikata sebagai guru pseudo (topeng), yaitu mengutamakan kepentingan sendiri, dan hanya ingin memperoleh pengakuan masyarakat sebagai jabatan yang masih dihormati. la lupa bahwa guru adalah tempat bergantung jiwa siswa, guru yang jelek akan menghasilkan siswa yang jelek, dan guru yang baik akan melahirkan siswa yang baik pula.

Dalam konteks pendidikan sekarang memang banyak guru yang berpengetahuan serba pas-pasan. Maksudnya, profesi guru hanya dijadikan konpensasi, batu loncatan, hanya menunggu antar waktu dalam mencari pekerjaan lainnya. Banyak yang tidak mempunyai kompetensi. keguruan, memaksakan diri untuk mengajar sehingga peserta didik tidak menunai kualitas, melainkan kenakalan dan kebodohan semakin subur, seperti; sex bebas, narkoba, judi, menyontek, bolos sekolah, menyakiti guru, malas belajar, menyakiti teman, mencuri, mabuk­-mabukan, pertengkaran massal antar siswa atau mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, dan atau mahasiswa dengan pihak lembaga perguruan tinggi yang ditempatinya, dan ironisnva lagi terdapat kerja sama antara guru dan anak didiknya untuk berbuat yang tidak baik.

3. Paradigma Baru Dalam Mengajar

Pergeseran paradigma kita akan terbangun dengan dukungan pemahaman tentang ke-pribadian diri sendiri, seberapa besar wilayah pengaruh Anda dan seperti apa reencana hidup Anda. Pada dasarnya, paradigma adalah seperangkat aturan yang kita gunakan dalam mem-persepsi nformasi clan memutuskannya dalam hidup kita.

Setiap orang pasti memiliki paradigma sendiri, yang tersusun berdasarkan masa lalu dan penga-laman hidupnya. Paradigma yang Anda miliki membuat Anda menjadi hidup, merasa berarti dan lebih bermanfaat. Paradigma juga bisa membatasi Anda, profesi dan kemajuan Anda. Paradigma akan berfungsi seperti karang semen yang melekat pada pikiran dan hati kita. Jika kerangka berpikir tidak mengakui Keberadaan perubahan, kita akan terbatasi pada setiap perubahan yang harus dilakukan. Akibatnya, paradigma dapat menyembunyikan kesempatan untuk berubah.

Dalam pengajaran yang sudah dilakukan berpuluh tahun, tentu sudah tertanam kerangka berpikir tentang profesi ini secara spesifik. Hal tersebut disebabkan berbagai pengaruh, seperti budaya keluarga yang notabene keluarga guru, lingkungan, dan sistem yang sudah ‘mengarang semen’ di pikiran kita. Inilah alasan mengapa paradigma kita perlu digeser. Pergeseran paradigma seperti memindahkan diri dari jendela satu ke jendela lainnya.

Pergeseran paradigma seseorang secara umum dapat terjadi sebagai bagian dari bertemu-nya wilayah kepribadian, pengaruh, dan rencana hidup (visi) masa depan.Wilayah kepribadian adalah output talenta yang ditunjang kemampuan membangun mentalitas, moralitas, dan spiritualitas secara baik Dikatakan wilayah kepribadian Anda baik apabila pemahaman diri telah didukung penuh oleh visi, kepemimpinan, dan pengelolaan diri yang baik

Wilayah pengaruh adalah wilayah hubungan Anda dengan peserta didik dan lingkungan profesi yang dapat dikendalikan. Dikatakan wilayah pengaruh Anda baik apabila selalu bersikap proaktif dalam menangani masalah. Wilayah rencana hidup kita dipengaruhi kekuatan, mau jadi apa, dan seperti siapa Anda kelak. Dikatakan wilayah rencana hidup baik bila Anda memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang dapat dilaksanakan. Secara ilmu eksistensi diri, pergeseran paradigma terbaik adalah menjadi (to be), bukan memiliki (to have). Bagi pendidik, modus hubungan ‘menjadi’ dengan dunia pengajaran mempunyai kualitas yang kuat bila pendidik membangun interaksi menang-menang, menjadi guru pemilik dan perancang, bersifat biofili dan berhati bintang.

Pergeseran paradigma guru mengalir seperti air yang dimulai dari cara pandang, pola hubungan dengan siswa, proses pengajaran di kelas-kelas, sampai cara memperoleh sumber ilmu hakiki.

A. Cara Pandang Terhadap Diri dan Profesi Guru

Ada empat kuadran utama yang dapat digunakan Seorang guru untuk mengembangkan dirinya dan dunia profesi yang sudah menjadi karier bagi masa depannya.

Kuadran 1            : guru pekerja

Kuadran 2            : guru professional

Kuadran 3            : guru pemilik (expert)

Kuadran 4            : guru  perancang

Alur pengembangan diri pada kuadran-kuadran tersebut adalah mengalir secara akumulatif dari kuadran pertama terus menuju kuadran keempat.

Guru pekerja adalah guru yang sebatas melaksanakai pekerjaannya; guru profesional ada-lah guru yang memiliki profesionalitas (keahlian) lebih dengan harga tertentu; guru pemilik adalah guru yang mengendalikan dan memiliki si lembaga pendidikan; dan guru perancang adalah guru yang memahami makna profesinya secara rnendalam, memiliki visi, dan merancang pengajarannya secara hidup (kreatif).Dikatakan guru pekerja bila Anda termasuk guru yang menyukai kemapanan, tidak ada keinginan untuk berubah, senang dengan pekerjaan rutinitas, mengajar dengan cara yang sama tentang hal yang sama kepada orang yang berbeda. Dikatakan guru profesional bila Anda termasuk guru yang -nenyukai tantangan dalam mengajar, senang dengan oekerjaan yang mandiri, tidak rutin tapi memuaskan, senang berpindah tempat kerja dengan pekerjaan yang sama. Dikatakan guru pemilik bila Anda adalah guru yang mampu mengendalikan sistem pengajaran dan atau menjadi pemilik lembaga sekolah, pemodal, pimpinan yayasan, bagian dari kelompok pengambil keputusan, senang dengan peran sebagai pengendali dan atau pimpinan lembaga pendidikan. Dikatakan guru perancang bila Anda adalah guru yang berfungsi sebagai pembuat sistem, perancang masa depan oengajaran, bersifat inovatif, senang pada ide dan perubahan yang mengaktifkan pengajaran. Anda adalah orang yang kaya dengan ide atau gagasan yang inovatif yang menjadikan Anda orang yang sangat berarti. Anda menjadi perancang sistem bagi kemajuan diri dan masa depan orang lain.

B. Pendekatan Pengajaran Yang dilakukan dikelas

Seorang pendidik yang efektif, tidak hanya efektif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas saja (transfer of knowledge), tetapi lebih-lebih dalam relasi pribadinya dan “modeling”nya (transfer of attitude and values), baik kepada peserta didik maupun kepada seluruh anggota komunitas sekolah. Pendidikan yang humanis menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadipribadi dan antar pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Relasi ini berkembang dengan pesat dan menghasilkan buah-buah pendidikan jika dilandasi oleh cintakasih antar mereka. Pribadi-pribadi hanya berkembang secara optimal dan relatif tanpa hambatan jika berada dalam suasana yang penuh cinta (unconditional love), hati yang penuh pengertian (understanding heart) serta relasi pribadi yang efektif (personal relationship). Dalam mendidik seseorang kita hendaknya mampu menerima diri sebagaimana adanya dan kemudian mengungkapkannya secara jujur (modeling).

Mendidik tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, melatih keterampilan verbal kepada para peserta didik, namun merupakan bantuan agar peserta didik dapat menumbuhkembangkan dirinya secara optimal. Mendidik yang efektif pada dasarnya merupakan kemampun seseorang menghadirkan diri sedemikian sehingga pendidik memiliki relasi bermakna pendidikan dengan para peserta didik sehingga mereka mampu menumbuh kembangkan dirinya menjadi pribadi dewasa dan matang. Pendidikan yang efektif adalah yang berpusat pada siswa atau pendidikan bagi siswa. Dasar pendidikannya adalah apa yang menjadi “dunia”, minat, dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Pendidik membantu peserta didik untuk menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki (the learners-centered teaching). Ciri utama

pendidikan yang berpusat pada siswa adalah bahwa pendidik menghormati, menghargai dan menerima siswa sebagaimana adanya. Komunikasi dan relasi yang efektif sangat diperlukan dalam model pendidikan yang berpusat pada siswa, sebab hanya dalam suasana relasi dan komunikasi yang efektif, peser-ta didik akan dapat mengeksplorasi dirinya, mengembangkan dirinya dan kemudian memfungsikan diri-nya di dalam masyarakat secara optimal.

C. Membangun Sistem Hubungan Sinergis dengan Siswa

Pola interaksi guru dengan peserta didik dan lingkungannya, guru dapat dibagi dalam 4 jendela utama

 

Jendela

I

Menang kalah

 

Jendela

II

Menang-menang

 

Jendela

III

Kalah Kalah

 

Jendela

IV

Kalah Menang

  1. Guru pada jendela I adalah guru yang memiliki pola interaksi menang kalah
  2. Guru pada jendela II adalah guru yang memiliki pola interaksi menang-menang
  3. Guru pada jendela III adalah guru yang memiliki pola interaksi kalah kalah
  4. Guru pada jendela IV guru yang memiliki pola interaksi kalah-menang

Dari keempat pola interaksi guru dengan peserta didik, interaksi guru yang ideal berada pada jendela II, yakni guru yang memiliki pola interaksi dengan para siswa dengan mengedepankan output menang-menang.

Dikatakan guru memiliki pola interaksi menang-kalah (jendela 1) bila guru dalam hubungan dengan peserta didiknya hanya memedulikan diri sendiri. Mereka ingin selalu dalam posisi menang dan menginginkan peserta didik tunduk pada keinginan guru tersebut. Dikatakan pola interaksi menang-menang (jendela II) bila guru hubungan dengan peserta didiknya tidak hanya memedulikan diri sendiri tetapi juga kemajuan peserta didik, memiliki timbang rasa tinggi dan keberanian untuk bertindak. Berada pola hubunganjendela II membutuhkan kelimpahan mentalitas, moralitas, dan spiritualitas.

Dikatakan memiliki pola interaksi kalah-kalah (jendela III) bila guru dalam hubungan dengan peserta didiknya. Sementara itu, pola interaksi kalah menang (jendela IV) menunjukkan guru yang memiliki timbang rasa pada peserta didik tetapi kurang punya keberanian dalam mengungkapkan dan bertidak menurut keyakinan yang  dimilikinya.

4. Mengajar Berdasarkan Potret Diri dan Gaya Belajar Siswa

Ada empat prilaku (Potret Kepribadian) dasar manusia menurut seorang filosop Yunani Hippocrates yang dipopulerkan oleh Florence Littaur dalam bukunya Personality Plus(Amir: 2006: 22). Empat potret dasar tersebut adalah prilaku sanguinis popular, prilaku koleris kuat, perilaku phlegmatis damai, dan prilaku melankolis sempurna.

Empat Potret Kepribadian Dasar

SANGUINIS 

Popular

(Lihatlah Saya)

Mari mengajar dengan

cara menyenangkan

KOLERIS 

Kuat

(Ikutilah saya)

Mari mengajar dengan cara saya

 

PHLEGMATIS

Damai

(Hormatilah saya)

Mari mengajar dengan cara

yang mudah

 

MELANKOLIS

Sempurna

(Pahamilah saya)

Mari mengajar dengan cara

yang benar

4.1 Guru Sanguinis

Guru sanguinis mungkin tidak sehebat potret diri kepribadian lain, tetapi prilaku mereka selalu menampakkan kesenangan. Kepribadian yang meluap-luap dan pesona mereka yang memiliki daya magnetis yang kuat. Pribadi guru ini punya sekolompok penggemar dari peserta didik yang selalu menyertai mereka. Walaupun kegiatan menyenangkan sanguinis kadang-kadang lepas kendali, sang guru sanguinis sangat pandai dalam memunculkan kepribadiannya secara menarik. Sebagai pengajar, guru sanguinis cenderung menjadi guru menggembirakan, membujuk dan mengilhami, tetapi mudah lupa dan kurang baik dalam persiapan dan ketuntasan dalam pengajaran.

4.2 Guru Koleris

Guru koleris akan nampak sebagai orang yang bekerja konsisten. Kerja, atau penyelesaian merupakan salah satu kebutuhan emosional orang koleris. Kalau ada perayaan atau pertemuan syukuran di sekolah, guru koleris akan datang terlambat dan pulang lebih dulu untuk memungkinkan penyelesaian pekerjaan maksimum pada hari kerja. Guru koleris akan mempertahankan ketinggian produktivitasnya setiap hari. Mereka butuh penghargaan terhadap apa yang dilakukan. Kalau tidak mendapatkan penghargaan yang mereka butuhkan, mereka akan bekerja lebih keras lagi untuk mencapai lebih banyak dengan harapan lingkungan akan memperhatikannya. Guru koleris senantiasa berkata bagaimanapun saya mengajar untuk kepentingan sekolah ini. Sebagai orang koleris, ia merasa bersalah jika satu hari saja tidak produktif.

4.3 Guru Phlegmatis

Guru phlegmatis memiliki keiinginan yang sangat tidak kelihatan. Mereka pandai menyimpannya dan secara diam-diam merencanakan sesuatu untuk mendapatkan pengakuan orang lain. Karena sifatnya pendiam dan berpuas diri, guru phlegmatis tampak merasa senang dimanapun mereka berada. Karakter yang tenang dan terkendali serta keinginan merebut pengaruh secara diam-diam, membuat guru phlegmatis selalu ingin merebut kontrol dan mengendalikan lingkungannya dengan cara diam-diam dan sangat tenang.

4.4 Guru Melankolis

Kebutuhan emosional guru melankolis adalah ketertiban dan kepekaan. Selain menginginkan kesempurnaan dalam kehidupan profesional, mereka juga memerlukan kehidupan pribadi yang tertib. Mereka akan menghargai orang lain yang peka terhadap kebutuhan mereka. Sebagai pengajar, mereka suka mengorganisasi dengan baik, peka terhadap perasaan peserta didiknya, mempunyai kreativitas yang mendalam, dan menginginkan unjuk kerja yang bermutu. Karenanya, dalam praktik pembelajaran, secara tegas mereka ingin berada pada garis yang benar.

4.5 Prilaku Terbaik Sang Guru

Prilaku sebagai talenta terbaik bagi pengajaran adalah hasil perpaduan keempat prilaku di atas. Bagaimana cara memadukannya? Sesuaikan dengan situasi dan kondisi kelas yang sedang menjadi sasaran pembelajaran.

Prilaku Sanguinis, terbaik digunakan untuk menciptakan keakraban, memecahkan kebekuan kelas, menjadikan pembelajaran lebi fun dan lebih menyenangkan.

Prilaku Koleris, terbaik digunakan untuk mengendalikan kelas dari “anak-anak bermasalah”, mengendalikan sang trouble maker, dan menciptakan kelas lebih produktif.

Prilaku Phlegmatis, terbaik digunakan untuk mendengarkan keluhan-keluhan atau masalah-masalah dan menjaga kedamaian kelas.

Prilaku Melankolis, terbaik digunakan untuk mendetilkan pengajaran, berfikir sistematis, dan kemauan kuat untuk memastikanbhw pengajaran sudah mampu dipahamioleh siswa.

Masing-masing guru telah memiliki keempat prilaku tersebut, perbedaannya hanya pada dominasi dan inferiornya. Bagi guru yang didominasi sanguinis, perlu melatih prilaku koleris, phlegmatis dan melankolis. Guru yang didominasi koleris, harus melatih prilaku sanguinis, phlegmatis dan melankolis. Demikian juga untuk prilaku yang lain, bahkanmungkin juga ada guru yang didominasi dua prilaku sehingga hanya tinggal melatih kedua prilaki yang lain.

5. Tipe Gaya Belajar

Sebagai guru yang profesional yang mempunyai kompetensi pedagogik maka guru harus mengetahui latar belakang siswanya termasuk gaya belajar siswa-siswanya. Ada tiga gaya belajar manusia yaitu modalitas audio, visual dan kinestetik. Dalam kenyataannya setiap manusia memiliki potensi ketiga gaya belajar itu, hanya biasanya ada satu gaya belajar yang mendominasinya. Sebagai guru akan lebih memudahkan pembelajaran yang dilakukan bila dapat menyesuaikan pengajaran dengan modalitas-modalitas tersebut secara harfiah berbicara dengan bahasa yang sama dengan otak peserta didik kita.

5.1 Gaya Belajar Visual

Modalitas ini mengakses citra visual, yang diciptakan maupun yang diingat. Warna, hubungan ruang, potret mental, dan gambar, menonjol dalam modalitas ini. Seseorang yang sangat visual mungkin bercirikan hal berikut:

  • Teratur, memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan
  • Mengingat dengan gambar, lebih suka membaca dari pada dibacakan
  • Membutuhkan gambaran, dan tujuan menyeluruh dan menangkap detail, mengingat apa yang dilihat
  • Nada bicara tinggi dan sering berbicara dengan cepat

5.2 Gaya Belajar Auditori

Modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata (diciptakan maupun diingat). Musik, nada, irama, dialog internal, dan suara menonjol disini. Seseorang yang auditorial dapat dicirikan sebagai berikut:

  • Perhatiannya mudah terpecah
  • Berbicara dengan pola beriirama
  • Belajar dengan cara mendengar, menggerakkan bibir/bersuara saat membaca
  • Berdialog secara internal dan eksternal

5.3 Gaya Belajar Kinestetik

Modalitas ini mengakses segala jenis gerak dan emosi (diciptakan maupun diingat). Gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional dan kenyamanan fisik menonjol di sini. Seseorang yang kinestetik sering melakukan hal berikut:

  • Nenyentuh orang dan berdiri berdekatan, banyak bergerak
  • Belajar dengan melakukan, menunjukkan tulisan saat membaca, menanggapi secara fisik
  • Mengingat sambil berjalan dan melihat

5.4 Belah Ketupat Pembelajaran

Teknik mengajar berdasarkan personalisasi siswa adalah memadukan keempat potret dasar siswa denga tiga gaya belajar seperti pada gambar berikut yang selanjutnya disebut “Belah Ketupat Pembelajaran” karena menyerupai gambar belah ketupat.

Saat guru membuka sesi pengajaran, kondisikan diri sendiri dan siswa dalam kondisi alfa dapat bersamaan dengan menggunakan pendekatan sanguini ( 5 – 10 menit). Kendalikan kelas dengan koleris bila diperlukan. Fungsi pendekatan sanguinis akan memecahkan kebekuan kelas. Sementara itu, koleris akan sangat berfungsi terhadap peserta sulit atau kelas yang tidak terkendali. Saat guru memasuki inti pengajaran, gunakan pendekatan phlegmatis dan melankolis dengan teknik penyampaian visual, auditori, kinestetik, atau memadukannya. Pada sesi akhir, gunakan kembali pendekatan sanguinis. Buat para siswa jatuh cinta dan ingin kembali hadir (rindu kelas) dalam pengajaran kita.

6. Penutup

Pembelajaran dapat terjadi dengan baik dan hasil akan optimal bila antara guru dan siswa dalam kondisi alfa yakni kondisi dimana guru dan siswa merasa ikhlas melakukan kegiatannya masing-masing. Karena guru mengajar banyak siswa yang mempunyai prilaku dan gaya belajar yang berbeda maka guru harus mempunyai ketrampilan untuk memadukan antara prilaku-prilaku mengajar serta gaya belajar siswa sesuai kondisi dan kebutuhan pada saat pembelajaran.

Secara umum hasil pembelajaran akan benar-benar baik jika siswa dan guru secara bersama-sama dan sadar ingin melakukan perubahan menuju lebih baik sehingga keduanya dapat mengoptimalkan ketiga potensi dasar manusia sebagai anugerah Tuhan yakni Rasional (IQ), Emotional (EQ) dan Spiritual (SQ) secara sinergis dengan memanfaatkan potret diri dan gaya belajar yang juga sudah dimiliki oleh manusia baik sebagai guru maupun sebagai siswa. Hal yang lebih penting lagi keinginan dan keyakinan untuk berubah menuju lebih baik yang perlu ditanamkan kepada diri sendiri (guru) maupun kepada siswa-siswa sebagai peserta didik. Nilai-nilai seperti inilah yang kurang mendapat perhatian oleh guru-guru kita yang menjadi tantangan bagi kita untuk terus membenahinya.

Daftar Pustaka

Sentanu, Erbe. 2008. Kuantum Ikhlas. Teknologi Ikhlas.

Solihin dan Dandun Suroto.2009. Setiap Siswa adalah Berbeda (Mengenal Tipe Belajar, Kepribadian dan Bahasa Tubuh Siswa. Bekasi: PAEDEA.

Tengku Ramly, Amir. 2006. Pumping Teacher, Memompa Teknik Pengajaran Menjadi Guru Kaya. Jakarta: PT Kawan Pustaka.

Thoifuri.2008.Menjadi Guru Inspirator.Jakarta:RaSAIL.

Umar Fakhrudin, Asep.2009. Menjadi Guru Favorit.Jogjakarta: DIVA Press.

Quantum Teaching. Bobbi De Porter.

Zulfiandri, 2007. Qualitan Teaching Cara Cerdas Menjadi Guru Mencerahkan . Jakarta: Qualitan Press.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 25, 2011 in Psikologi Pendidikan

 

Tag:

Galeri

PROSPEK PENGGUNAAN TIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DITINJAU DARI FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT

(Oleh : Yuyun Jumiati, Een Rochaeni, Eha Yaniarti, , & Nurlelawati)

PENGANTAR

Dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan bahasa, penggunaan bahasa dikemas dalam empat aspek keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis). Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut menjadi landasan pembelajaran sejak SD hingga perguruan tinggi. Setiap pebelajar diberdayakan kompetensinya untuk menguasai keempat aspek tersebut (meskipun sulit mencari orang yang menguasai keempatnya).

Dikaitkan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, aspek keterampilan berbahasa menjadi komponen menarik untuk dikaji. Suatu teknologi ditemukan dan dikembangkan untuk kemaslahatan umat manusia. Dengan teknologi segala hajat hidup dapat dilakukan dengan cara yang efektif dan efisien. Bahkan, para pemakai bahasa pun dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kompetensi berbahasa, baik secara reseptif maupun produktif.

Dalam makalah ini pemakalah mencoba memberikan peluang-peluang untuk menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran keterampilan berbahasa. Penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran, ternyata, mampu meningkatkan hasil belajar bahasa. Misalnya, penggunaan audiolingual dan audio visual telah berjaya meningkatkan hasil belajar bahasa (lihat Richards and Rogers, 1993). Pembelajaran yang seperti itu telah menjadi bagian dalam upaya meningkatkan hasil belajar.

Problematika yang dihadapi oleh guru bahasa Indonesia dalam era globalisasi  terkait dengan perkembangan TIK sangat krusial. Perkembangan Teknologi informasi dan komunikasi di era globlaisasi saat ini berimplikasi pada pergeseran paradigma dalam sistem pendidikan. Paradigma baru pembelajaran pada era globalisasi memberikan tantangan yang besar bagi guru. Pada era ini dalam melaksanakan profesinya, guru dituntut lebih meningkatkan profesionalitasnya. Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Guru yang profesional pada dasarnya ditentukan oleh attitudenya yang berarti pada tataran kematangan yang mempersyaratkan keinginan dan kemampuan, baik secara intelektual maupun kondisi fisik yang prima.

Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan. Menurut Arifin (2000), guru yang profesional dipersyaratkan mempunyai; 1) dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi dan masyarakat ilmu pengeta­huan di era globalisasi, 2) penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendi-dikan yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi di lapangan dan bersifat ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan pada praksis pendidikan masyarakat Indonesia, 3) pengembangan kemampuan profesional berkelanjutan, profesi guru merupakan profesi yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan praktek pendidikan.

Dengan adanya persyaratan profesionalisme guru ini, perlu adanya paradigma baru untuk melahirkan profil guru yang profesional di era globalisasi, yaitu; 1) memiliki kepribadian yang matang dan berkembang, 2) penguasaan ilmu yang kuat, 3) keterampilan untuk mem-bangkitkan peserta didik kepada sains dan teknologi, dan 4) pengembangan profesi secara berkesinambungan. Keempat aspek tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dan ditambah dengan usaha lain yang ikut mempengaruhi perkembangan profesi guru yang profesional.

Apabila syarat-syarat profesionalisme guru tersebut terpenuhi, akan melahirkan profil guru yang kreatif dan dinamis yang dibutuhkan pada era globalisasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Semiawan (1999), bahwa pemenuhan persyaratan guru profesional akan mengubah peran guru yang semula sebagai orator yang verbalistis menjadi berkekuatan dinamis dalam menciptakan suatu suasana dan lingkungan belajar yang inovatif. Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, guru memiliki multi fungsi yaitu sebagai fasilitator, motivator, informator, komunikator, transformator, change agent, inovator, konselor, evaluator, dan administrator.

I. Kaitan TIK dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia

1.  Pengaruh Globalisasi Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia

Era globalisasi merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat mempertahankan diri di tengah-tengah pergaulan antarbangsa yang sangat rumit. Untuk itu, bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri dengan baik dan penuh perhitungan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah jati diri bangsa yang diperlihatkan melalui jati diri bahasa. Jati diri bahasa Indonesia memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sederhana, Tatabahasanya mempunyai sistem sederhana, mudah dipelajari, dan tidak rumit. Kesederhanaan dan ketidakrumitan inilah salah satu hal yang mempermudah bangsa asing ketika mempelajari bahasa Indonesia. Setiap bangsa asing yang mempelajari bahasa Indonesia dapat menguasai dalam waktu yang cukup singkat. Namun, kesederhaan dan ketidakrumitan tersebut tidak mengurangi kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dalam pergaulan dan dunia kehidupan bangsa Indonesia di tengah-tengah pergaulan antarbangsa. Bahasa Indonesia telah membuktikan diri dapat dipergunakan untuk menyampaikan pikiran-pikiran yang rumit dalam ilmu pengetahuan dengan jernih, jelas, teratur, dan tepat. Bahasa Indonesia menjadi ciri budaya bangsa Indonesia yang dapat diandalkan di tengah-tengah pergaulan antarbangsa pada era globalisasi ini. Bahkan, bahasa Indonesia pun saat ini menjadi bahan pembelajaran di negara-negara asing seperti Australia, Belanda, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Cina, dan Korea Selatan.

Tanggung jawab terhadap perkembangan bahasa Indonesia bukan hanya dipundak guru bahasa Indonesia khususnya dalam pembelajaran, namun terletak di tangan pemakai bahasa Indonesia sendiri. Baik buruknya, maju mundurnya, dan tertatur kacaunya bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia yang baik. Setiap warga negara Indonesia harus bersama-sama berperan serta dalam membina dan mengembangkan bahasa Indonesia itu ke arah yang positif. Maju bahasa, majulah bangsa. Kacau bahasa, kacaulah pulalah bangsa. Keadaan ini harus disadari benar oleh setiap warga negara Indonesia sehingga rasa tanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia akan tumbuh dengan subur di sanubari setiap pemakai bahasa Indonesia.

Era globalisasi merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat mempertahankan diri di tengah-tengah pergaulan antarbangsa yang sangat rumit. Untuk itu, bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri dengan baik dan penuh perhitungan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah jati diri bangsa yang diperlihatkan melalui jati diri bahasa. Jati diri bahasa Indonesia memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sederhana, Tatabahasanya mempunyai sistem sederhana, mudah dipelajari, dan tidak rumit. Kesederhanaan dan ketidakrumitan inilah salah satu hal yang mempermudah bangsa asing ketika mempelajari bahasa Indonesia. Setiap bangsa asing yang mempelajari bahasa Indonesia dapat menguasai dalam waktu yang cukup singkat. Namun, kesederhaan dan ketidakrumitan tersebut tidak mengurangi kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dalam pergaulan dan dunia kehidupan bangsa Indonesia di tengah-tengah pergaulan antarbangsa. Bahasa Indonesia telah membuktikan diri dapat dipergunakan untuk menyampaikan pikiran-pikiran yang rumit dalam ilmu pengetahuan dengan jernih, jelas, teratur, dan tepat. Bahasa Indonesia menjadi ciri budaya bangsa Indonesia yang dapat diandalkan di tengah-tengah pergaulan antarbangsa pada era globalisasi ini. Bahkan, bahasa Indonesia pun saat ini menjadi bahan pembelajaran di negara-negara asing seperti Australia, Belanda, Jepanh, Amerika Serikat, Inggris, Cina, dan Korea Selatan.

Tanggung jawab terhadap perkembangan bahasa Indonesia bukan hanya dipundak guru bahasa Indonesia khususnya dalam pembelajaran, namun terletak di tangan pemakai bahasa Indonesia sendiri. Baik buruknya, maju mundurnya, dan tertatur kacaunya bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia yang baik. Setiap warga negara Indonesia harus bersama-sama berperan serta dalam membina dan mengembangkan bahasa Indonesia itu ke arah yang positif. Maju bahasa, majulah bangsa. Kacau bahasa, kacaulah pulalah bangsa. Keadaan ini harus disadari benar oleh setiap warga negara Indonesia sehingga rasa tanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia akan tumbuh dengan subur di sanubari setiap pemakai bahasa Indonesia.

2.  Perkembangan TIK Bagi Guru Bahasa Indonesia

Peranan guru bahasa Indonesia dalam pendidikan terletak pada tugas dan tanggung jawabnya dalam melaksanakan profesinya sebagai alat pendidikan. Tugas dan tanggung jawab tersebut ber­kaitan erat dengan kemampuan dasar yang disyaratkan untuk memangku jabatan profesi. Ke­mampuan dasar itu adalah kompetensi guru, yang merupakan profesionalisme guru dalam melaksanakan profesinya. Kemerosotan pendidikan bukan diakibatkan oleh kurikulum tetapi oleh kurangnya kemampuan profesionalisme guru dan keengganan belajar siswa. Profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.

Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) merupakan salah satu hasil usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang telah dimulai pada permulaan kehidupan manusia. Pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mempunyai kaitan yang erat seperti diketahui bahwa iptek menjadi bagian utama dalam isi pendidikan. Dengan kata lain pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan perkembangan iptek.

Seorang guru yang menguasai teknologi informasi salah satunya adalah guru yang dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru mulai dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil belajar, analisis hasil belajar maupun kegiatan remedial dan enrichment telah memanfaatkan komputer secara optimal. Dokumen administrasi guru semuanya tersimpan secara digital dan setiap saat dapat diakses dan diperbaharui sesuai dengan kebutuhan. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, persoalan waktu dan kesulitan teknis dapat dipangkas sehingga penyusunan dokumentasi administrasi pembelajaran dan dokumentasi soal-soal menjadi lebih mudah, efektif dan efisien.

Dengan perkembangan iptek dan kebutuhan masyarakat yang makin kompleks maka pendidikan dalam segala aspeknya mau tidak mau harus mengakomodasi perkembangan itu, baik perkembangan iptek maupun perkembangan masyarakat. Lembaga pendidikan utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajaran seyogianya hasil perkembangan iptek mutakhir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi, maupun cara memperoleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat. Relevansi bahan ajaran dan cara penyajiannya dengan hakikat ilmu, sumber bahan ajaran itu merupakan satu tuntutan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Di banyak negara maju, teknologi TIK justru telah menjadi infrastruktur utama dalam hal proses pembelajaran. Lain halnya di Indonesia yang justru mengalami degradasi percepatan dalam hal mengikuti perkembangan teknologi dalam proses belajar mengajar. Khususnya pada sebagian besar sekolah-sekolah di Indonesia masih menggunakan metode pembelajaran pada era 1990an. Banyak faktor yang menyebabkan sistem pembelajaran di Indonesia belum bisa mengikuti perkembangan teknologi. Beberapa diantaranya adalah kurangnya SDM guru – dalam hal ini guru bahasa Indonesia yang ahli dibidangnya dan menguasai penggunaan teknologi pendukung, serta mahalnya peralatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti komputer dekstop, notebook dan koneksi Internet yang masih dirasakan oleh sebagian besar orang yang terlibat pada proses pembelajaran. Kebutuhan penggunaan TIK tentunya disesuaikan oleh jenis sekolah tersebut. Sekolah berjenis teknik khususnya teknik informatika akan sangat tinggi dalam penggunaan ICT dibanding sekolah umum.

Teknologi komputer dapat berfungsi sebagai teknologi informasi maupun sebagai teknologi komunikasi. Seorang guru dalam konteks ini sejatinya menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Istilah Information and Communication Technology (ICT) dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Istilah TIK dalam makalah ini bukan TIK sebagai Mata Pelajaran, melainkan sebagai segala hal yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi komputer dalam kegiatan pembelajaran. Dalam konteks ini, TIK sebagai information and communication technology based learning dan multimedia learning.

Secara akademis, pengertian teknologi informasi dapat dibedakan dengan teknologi komunikasi, meskipun pada prakteknya teknologi informasi dan komunikasi ibarat dua sisi mata uang. Teknologi informasi memiliki pengertian luas yang meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, pengunaan komputer sebagai alat bantu, manipulasi dan pengolahan informasi. Sementara teknologi komunikasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat satu ke perangkat yang lainnya. Dalam konteks pembelajaran, TIK meliputi segala hal yang berkaitan dengan pemanfaatan komputer untuk mengolah informasi dan sebagai alat bantu pembelajaran serta sebagai sumber informasi bagi guru dan siswa.

Terkait dengan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, pada umumnya  guru bahasa Indonesia masih berbicara tentang kaidah bahasa dan penggunaan bahasa secara komunikatif belum sampai pada penggunaan bahasa Indonesia di bidang TIK. Maka dari itu, kebutuhan dukungan TIK juga sebagian besar tertuju hanya pada penyediaan informasi global. Bahkan karena itu pula sebagian besar guru bahasa Indonesia beranggapan bahwa mereka tetap bisa berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan TIK  yang tinggi dan canggih. Untuk mendukung sistem pembelajaran, mereka merasa masih dapat menyediakannya lewat buku-buku perpustakaan dan koran yang berisi materi-materi tentang bahasa Indonesia. Dalam aktifitas pemberian materi, mereka masih merasa puas dengan menggunakan overhead, papan tulis, dan fotokopi materi.

3.  Faktor Pendukung yang Diperoleh Guru Bahasa  Indonesia dalam Pembelajaran dengan Memanfaatkan TIK

1)  Dengan  TIK materi pembelajaran yang diberikan guru melalui internet dapat memberikan sambungan (koneksivitas) dan jangkauan yang sangat luas (global).

2)  Akses informasi tidak dibatasi oleh waktu karena dunia maya yang dihadirkan secara global tidak pernah tidur artinya, kita dapat melakukan pencarian inforasi melalui internet kapan saja selama 24 jam sehari.

3) Akses informasi melalui internet lebih cepat  dibanding dengan mencari informasi pada halaman-halaman buku-buku di perpustakaan. Kita tinggal mengklik icon tertentu, maka apa yang kita inginkan akan muncul pada layar computer kita.

4) Akses internet juga dapat menyediakan kegiatan pembelajaran interaktif yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga tertentu yang dapat meningkatkan kemampuan bernalar serta pengetahuan kita.

5) Kita dapat berdiskusi tentang berbagai hal dengan siswa , teman, jika kita memesuki mailing list atau melakukan chatting.

6)  Dibandingkan dengan membeli buku atau majalah asli, penelusuran informasi melalui internet jauh lebih murah. Apalagi pada saat ini banyak situs  yang menyediakan jasa informasi secara Cuma-Cuma (gratis) kita tinggal mendoanload atau mencetak file naskah yang kita butuhkan.

4. Faktor Penghambat yang Dihadapi Guru Bahasa Indonesia dalam Pembelajaran dengan MemanfaatkanTIK

Penggunaan teknologi untuk memperbaiki pendidikan masih dapat dipertimbangkan. Beberapa keuntungan dari penggunaan teknologi informasi untuk sistim pembelajaran di luar kelas adalah:

a) penambahan akses untuk belajar,

b) penambahan sumber informasi yang lebih baik,

c) penambahan ketersediaan media alternatif untuk mengakomodasi strategi pembelajaran yang beraneka ragam,

d) motivasi belajar menjadi semakin tinggi, dan, model pembelajaran individu maupun kelompok menjadi lebih potensial (Niemi and Gooler, 1987). Pendapat lain menyebutkan keuntungan potensial penggunaan TIK dalam proses pembelajaran (Massy and Zemsky, 1995) adalah:

1) penyediaan akses ketersediaan informasi tanpa batas lewat Internet dan onlinedatabase,

2) membuka batasan waktu dan ruang untuk aktifitas pembelajaran,

3) menjadikan guru bahasa Indonesia sebagai orang terbaik bagi siswa lewat sistem pengajaran berbasis multimedia,

4) menyediakan sistem pembelajaran mandiri, menyikapi kepekaan dalam perbedaan cara pembelajaran, dan menyediakan monitoring kemajuan dalam proses pembelajaran secara berkelanjutan,

5) membuat penyelenggara edukasi menjadi lebih outcomeoriented, dengan menambah kemampuan institusi dalam bereksperimen dan berinovasi,

6) menambah produktifitas pengetahuan, dan

7) memberikan siswa untuk dapat mengontrol proses dan keuntungan dalam belajar dengan secara aktif dan mandiri serta mempunyai tanggung jawab secara personal. Penggunaan teknologi yang membuat edukasi menjadi lebih baik tidak akan terwujud tanpa adanya perubahan paradigma dalam edukasi itu sendiri.

Terkait dengan paradigma pendidikan ternyata di Indonesia masih kebingungan untuk memilih paradigma mana yang paling pas dalam menyelesaikan masalah pembelajaran berbasis TIK. Program dulu baru anggarannya, atau anggarannya dulu baru programnya. Kebingungan ini mungkin karena trauma lama, yakni adanya program yang bagus ternyata tidak didukung oleh adanya anggaran yang tersedia. Atau trauma lama tentang ketersediaan anggaran untuk suatu program ternyata dilatarbelakangi oleh kepentingan dari pihak-pihak nonkependidikan yang memiliki motif-motif untuk mencari keuntungan. Contoh tentang hal ini terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Program pengadaan alat peraga, pengadaan buku pelajaran satu siswa satu buku, bahkan soal sepatu bagi siswa saja kemudian dengan mudahnya disediakan dananya. Tetapi, anggaran yang tersedia itu tenyata tidak dilengkapi dengan konsep dan perencanaan yang matang. Atau konsep yang ada itu dengan mudahnya tidak dilaksanakan secara konsekuen. Ketentuan judul buku pelajaran harus digunakan di sekolah minimal selama lima tahun pelajaran, sebagai contoh, dengan mudahnya dipungkiri oleh sekolah, karena berbagai alasan seperti adanya perubahan kurikulum. Di Malaysia, penggunaan buku pelajaran menggunakan konsep sepuluh tahunan. Buku pelajaran yang digunakan di sekolah Malaysia digunakan selama sepuluh tahun. Buku pelajaran baru dapat diganti atau direvisi setelah melalui mekanisme sepuluh tahunan itu. Jika memang IT dan Internet memiliki banyak manfaat, tentunya ingin kita gunakan secepatnya. Namun ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan IT dan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin. Kesiapan pemerintah Indonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini.

Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. apakah infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan ini. Sebab perlu diketahui bahwa Cyber Law belum diterapkan pada dunia Hukum di Indonesia.

Selain itu, masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di Indonesia masih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia.. Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet. Hal ini tentunya dihadapkan kembali kepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada akhirnya terpulang juga kepada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan. Sehingga guru-guru di Indonesia memiliki kesempatan dalam memanfaatkan TIK. Harapan kita bersama hal ini dapat diatasi sejalan dengan perkembangan telekomunikasi yang semakin canggih dan semakin murah.

Kendala lain yang dihadapi guru bahasa Indonesia khususnya di lapangan ketika membuat persiapan pembelajaran adalah terbatasnya buku sumber materi pembelajaran. Keberadaan perpustakaan di sekolah pun tidak dapat menjawab permasalahan kurangnya sumber belajar. Keterbatasan anggaran yang ada di sekolah semakin melengkapi alasan kurangnya ketesediaan sumber bahan ajar.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat dewasa ini telah memberikan alternatif pemecahan masalah bagi guru dalam mengatasi kesulitan sumber bahan ajar. Internet menyediakan solusi bagi guru dalam membuat persiapan pembelajaran yang berbasis TIK. Guru tinggal mengakses dan berselancar di internet untuk mencari dan menemukan materi yang dibutuhkan sebagai bahan ajar di kelas.

Interconnected Network atau lebih populer dengan sebutan internet adalah sebuah sistem komunikasi global yang menghubungkan komputer-komputer dan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia. Internet dapat memberikan informasi yang mendidik, positif dan bermanfaat bagi manusia, namun juga dapat dijadikan lahan kejelekan dan kemaksiatan. Hanya etika, mental dan keimanan masing-masing lah yang menentukan batas-batasnya.

Dengan adanya internet sejatinya persoalan kurangnya sumber bahan ajar tidak menjadi persoalan lagi bagi guru, karena internet sendiri adalah lautan informasi di belantara dunia maya. Apapun dapat diakses oleh guru asalkan tahu caranya. Internet adalah pintu gerbang informasi yang terbuka sehingga siapapun dapat mengakses, termasuk siswa. Saat ini, sulit sekali ditemukan siswa yang tidak mengenal dan akrab dengan internet terutama mereka yang tinggal di daerah perkotaan.

Internet  telah merubah pola-pola komunikasi, pola sosial dan tatanan nilai yang selama ini telah mapan di masyarakat, bahkan secara ekstrim telah menafikan batas-batas teritorial antar negara. Informasi bukan lagi milik mereka yang pintar, melainkan milik mereka yang memiliki akses ke media informasi. Jika selama ini guru dipandang sebagai pigur yang serba tahu dan pemegang otoritas tunggal di kelas, maka seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, anggapan tersebut dapat dikoreksi, apalagi jika guru tersebut buta internet. Di jaman sekarang, seorang siswa sah-sah saja lebih pintar dari gurunya karena siswa tersebut sering mengakses internet dan membaca buku ketimbang gurunya.

Namun demikian, saat ini kesadaran akan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi bagi kepentingan dunia pendidikan sudah merasuki semua stockholder pendidikan. Ketika guru mengajar di kelas multimedia, maka disamping menggunakan aplikasi powerpoint sebagai software presentasi, maka guru dapat memasukkan bahan ajar yang berbasis TIK ke dalam presentasi tersebut. Powerpoint dalam kaitannya dengan bahan ajar yang berbasis TIK tidak lebih hanya sebagai media yang menampilkan bahan ajar tersebut supaya lebih menarik. Sementara bahan ajar itu sendiri bersumber dari internet atau pun dibuat sendiri oleh guru dengan menggunakan software tertentu. Selain itu, pemanfaatan TIK untuk pembelajaran oleh guru masih banyak yang belum bisa menguasai bahkan belum mengenalnya, ini masih terlihat banyak sekali yang perlu dikoreksi dan diperbaiki, salah satunya pada salah satu seminar ada pembicara menanyakan, Apakah sudah memiliki Blog pribadi di Internet, Jawaban dari peserta seminar yang menjawab sudah memiliki Blog hanya 10 orang dari total peserta yang hadir yaitu 600 orang sungguh hal yang jika mengingat fungsi blog bisa digunakan untuk media pembelajaran yang sangat baik tapi nyatanya banyak yang tidak bisa atau belum punya blog tersebut..

Pendidikan berbasis TIK memang memerlukan anggaran yang amat besar. Tetapi, untuk melaksanakan program penggunaan TIK tersebut, apa yang harus dilakukan pemerintah adalah menyusun naskah akedemis atau pun semacam blue book yang akan digunakan sebagai acuan atau pedoman untuk pelaksanaan program tersebut. Katakanlah bahwa anggaran untuk pelaksanaan program TIK tersebut memang sudah disiapkan sepenuhnya oleh pemerintah.

II. Model Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Berbasis TIK

1. Aspek Keterampilan Berbahasa dalam  Pembelajaran

Keterampilan berbahasa merupakan aspek kemampuan berbahasa yang menjadi sasaran tumpu para pebelajar bahasa. Oleh sebab itu, dalam dunia pendidikan para pengajar terus berupaya meningkatkan keberhasilan dalam pembelajaran bahasa melalui pencapaian kompetensi berbahasa, yakni menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Bahkan, dalam KTSP untuk SMP dan SMA (MA) dinyatakan bahwa standar kompetensi lulusan adalah sebagai berikut:

1. Mendengarkan

Memahami wacana lisan dalam kegiatan penyampaian berita, laporan, saran, berberita, pidato, wawancara, diskusi, seminar, dan pembacaan karya sastra berbentuk puisi, cerita rakyat, drama, cerpen, dan novel

2. Berbicara

Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan berkenalan, diskusi, bercerita, presentasi hasil penelitian, serta mengomentari pembacaan puisi dan pementasan drama

3. Membaca

Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana tulis teks nonsastra berbentuk grafik, tabel, artikel, tajuk rencana, teks pidato, serta teks sastra berbentuk puisi, hikayat, novel, biografi, puisi kontemporer, karya sastra berbagai angkatan dan sastra Melayu klasik

4. Menulis

Menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk teks narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, teks pidato, proposal, surat dinas, surat dagang, rangkuman, ringkasan, notulen, laporan, resensi, karya ilmiah, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, drama, kritik, dan esei.

Dengan mencermati SKL tersebut kita dapat berkreasi menggunakan berbagai model pembelajaran sehingga semua butir SKL terpenuhi pada akhir jenjang pendidikan SMA. Butir-butir SKL tersebut mengarah pada penggunaan bahasa. Dengan kata lain, pembelajaran bahasa di sekolah diarahkan untuk keterampilan berbahasa. Pembelajarannya bersifat integratif karena setiap aspek keterampilan berbahasa dikemas dalam matajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Pembelajaran bahasa di perguruan tinggi memiliki karakteristik pencapaian hasil belajar tersendiri karena setiap aspek keterampilan berbahasa dikemas dalam bentuk matakuliah. Karakteristik tersebut sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dimiliki mahasiswa.untuk dapat mencapai kompetensi tersebut para dosen berupaya menerapkan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik matakuliah yang diampunya. Karena setiap aspek keterampilan berbahasa menjadi sosok matakuliah, pembelajaran bahasa di perguruan tinggi (khususnya di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) berlangsung secara parsial. Setiap matakuliah keterampilan berbahasa berlangsung sesuai dengan karakteristik pencapaian hasil belajarnya. Dengan demikian, produk akhir pembelajaran berupa kemampuan yang dimiliki mahasiswa secara terpisah.

2. Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Keterampilan Berbahasa

Teknologi merupakan produk kreatif manusia untuk memenuhi berbagai keperluan hidup secara efektif. Saat ini teknologi informasi termasuk karya besar manusia untuk menge-jawantahkan segala keinginannya. Internet sebagai bagian dari produk teknologi informasi berkembang pesat dan telah membawa perubahan yang luar biasa pada segala aspek kehidupan manusia. Tak pelak lagi internet telah memengaruhi pola berkomunikasi antarmanusia dalam dunia maya. Melalui internet setiap orang dapat berkomunikasi. Bahkan, dunia pendidikan pun tidak luput untuk memanfaatkannya sehingga kelas maya dapat tercipta.

Internet menawarkan banyak fasilitas untuk dunia pendidikan. Fasilitas komunikasi yang disediakan internet telah memungkinkan kelas online menjadi kenyataan dengan memper-gunakan halaman web berbasis teks, surat elektronik (e-mail), pertukaran teks dan atau suara secara langsung (Internet Relay Chat), dan berbagai fasilitas multimedia interaktif. Dengan demikian, kegiatan belajar-mengajar dapat dilaksanakan, baik yang bersifat tertunda (delayed, seperti melalui e-mail) maupun secara langsung atau instan (real-time, misalnya melalui IRC dan audio-video conferencing). Pengajar dan peserta didik dapat melakukan komunikasi lintas waktu sehingga pembelajaran dapat dimasimalkan untuk pencapaian hasil belajar. Sejauh ini cukup banyak penelitian dan eksperimen yang berkenaan dengan pemanfaatan komputer dan internet untuk kegiatan belajar bahasa. Penelitian Davis dan Thiede tahun 2000 (Purnawarman, 2002) menunjukkan bahwa asynchronous electronic discourse dalam pelajaran menulis mampu menumbuhkan kesadaran pembelajaran linguistik dan gaya menulis. Chen et al. (Purnawarman, 2002) melakukan penelitian dengan melibatkan mahasiswa di Jurusan Bahasa dan Sastra Asing pada National Cheng Kung University dengan fokus pembelajaran menulis bahasa Inggris melalui internet. Penelitian ini membuktikan bahwa pertukaran pesan melalui internet mampu membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan komunikasi baru dan memperkuat kemampuan mereka berbahasa Inggris.

Penelitian lain dilakukan Susana M. Satillo dari Montclair State University mengenai fungsi wacana dan kompleksitas sintaktis pada komunikasi sinkronis dan asinkronis. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab dua pertanyaan, yaitu (1) apakah fungsi wacana yang disajikan pada diskusi sinkronis pembelajar ESL dalam penugasan membaca, baik secara kuantitatif maupun kualitataif berbeda dengan yang dilakukan melalui diskusi asinkronis, dan (2) cara CMC (Computer-Mediated Communication) yang mana yang memperlihatkan keluaran pembelajar yang lebih kompleks secara sintaktis. Hasilnya menunjukkan bahwa secara kuantitatif dan tipe fungsi wacana yang disajikan pada diskusi sinkronis sama dengan tipe modifikasi interaksional yang ditemukan pada percakapan bersemuka. Fungsi wacana pada diskusi asinkronis lebih dipaksakan daripada diskusi sinkronis dan sama pada lingkup evaluasi respon pertanyaan terhadap kelas bahasa yang biasa. Penangguhan diskusi asinkronis memberikan peluang kepada pebelajar untuk memproduksi bahasa yang kompleks secara sintaktis. Selain itu, Flank meneliti kompleksitas sintaktis dalam pengembalian informasi melalui multimedia (http:// http://www.ai.mit.edu/people/jimmylin/papres/ flank), Gouvea meneliti kompleksitas sintaktis bahasa Portugis dan Bahasa Inggris orang Brasil melalui Rapid Serial Visual Presentation (http://www.umd. edu/~gouvea/A Gouvea_WP_RSVP.PDF), dan Leather meneliti gaya mengajar dengan salah satunya menggunakan program komputer. Dengan mencermati berbagai penelitian tersebut, tampaknya dalam pembelajaran keterampilan berbahasa para pengajar bahasa perlu melakukan inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan komputer sebagai media pembelajaran. Berikut ini pemakalah sajikan beberapa topik dari aspek keterampilan berbahasa yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan TIK dalam model pembelajarannya.

ASPEK TOPIK
Menyimak
  1. Menangkap pokok pikiran
  2. Membedakan bunyidistingtif
  3. Mengungkap kembali tuturan
Membaca
  1. Meningkatkan kecepatan membaca
  2. Menangkap pokok pikiran
  3. Menemukan topic tulisan
Berbicara
  1. Pemroduksian tuturan
  2. Keefektifan kalimat
  3. Keruntutan gagasan
  4. Ketepatan artikulasi
Menulis
  1. Menulis jurnal
  2. Menulis artikel
  3. Menulis bersama
  4. Menulis prosa fiksi

3. Model Pembelajaran Keterampilan Membaca

Sebuah model pembelajaran yang berbasis TIK dapat dilaksanakan dengan baik apabila segala perangkatnya dapat disiapkan dengan baik pula. Salah satu perangkat yang tidak dapat dihindari adalah kemampuan pengajar mengenal berbagai program yang berkenaan dengan teknologi yang digunakan. Selain itu, peranti keras dan peranti lunak tersedia sehingga pembelajarannya dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Pemanfaatan TIK untuk pembelajaran keterampilan berbahasa tidak hanya tertuju pada kegiatan belajar-mengajar, tetapi juga dapat dilakukan untuk menghasilkan media pembelajaran. Misalnya, Rosita (2007), mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI, telah mampu mempertanggungjawabkan skripsinya dengan judul “Pengembangan Software Latihan Keterampilan Membaca Cepat sebagai Upaya Meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) Siswa Sekolah Menengah Pertama”. Produk akhirnya berupa peranti lunak latihan keterampilan membaca yang bersifat audio-visual yang dikemas secara menarik dan interaktif dengan menggunakan program Macromedia Flash 8. Hasil ujicobanya menunjukkan 18 siswa (96,84%) dari 19 siswa menunjukkan respon positif.

Sebagaimana yang tersaji pada bagian topik untuk setiap aspek keterampilan berbahasa, model pembelajaran keterampilan membaca dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat teknologi, baik yang bersifat interaktif maupun yang tidak. Tatarancang untuk model pembelajarannya tidak berbeda dengan model pembelajaran lainnya. Yang membedakannya terletak pada kegiatan belajar-mengajar. Pada tahun 2007 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI tengah melaksanakan model pembelajaran berbasis TIK dengan fokus pada matakuliah Membaca dan Menulis. Untuk saat ini pemakalah belum bisa mengumumkan hasilnya karena kegiatan perkuliahan baru berakhir belum dilaksanakan proses penilaian hasil berkuliah. Meskipun demikian, untuk memberikan gambaran mengenai model pembelajaran keterampilan berbahasa di bawah ini pemakalah sajikan sebuah model pembelajaran keterampilan Membaca berbasis internet.

A. Topik         : Membaca Kritis untuk Menulis

B. Tujuan    : Setelah perkuliahan selesai mahasiswa diharapkan mampu membuat tulisan berdasarkan hasil membaca kritis yang diunduh dari internet.

C. Kegiatan Pembelajaran :

Pertemuan 1: Pengantar perkuliahan secara offline untuk menindaklanjuti tugas Membaca.

Pertemuan 2: Secara online siswa mengunduh berbagai informasi sesuai dengan topik yang dipilihnya dengan produk akhir berupa ringkasan setiap informasi yang diunduh.

Pertemuan 3: Secara offline siswa melaporkan hasil kegiatan membaca kritis melalui internet. Dalam pertemuan ini setiap mahasiswa mengurutkan informasi secara logis. Setelah itu, dilakukan diskusi untuk menyempurnakan gagasan.

Pertemuan 4: Secara online siswa mengunduh informasi tambahan untuk menyempurnakan gagasan.

Pertemuan 5: Secara offline siswa mengembangkan tulisan berdasarkan informasi yang diunduh dari internet.

D. Organisasi Materi:

a. Topik tugas akhir

b. Informasi yang sesuai dengan topik tugas akhir membaca kritis

c. Kerangka tulisan sesuai dengan topik

E. Metode Pembelajaran:

a. Penelusuran situs

b. Diskusi

F. Sumber dan Media Pembelajaran: Internet dengan berbagai situsnya

G. Unsur Penilaian:

a. Keruntutan gagasan

b. Ketepatan pengambilan informasi

c. Kelengkapan informasi Model pembelajaran keterampilan membaca tersebut tidak hanya untuk produk akhir berupa tulisan, tetapi juga dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berbicara dengan menggunakan informasi yang diunduh dari internet. Melalui kegiatan seperti itu diharapkan tulisan atau pembicaraan lebih berkualitas.

4. Model Pembelajaran Menulis melalui Internet

Selain keterampilan membaca, TIK dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menulis. Kegiatan tersebut telah dilakukan oleh Pupung Purnawarman, dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI, dalam matakuliah Writing IV. Model pembelajaran yang dilakukannya secara offline dan online dengan jumlah kegiatan online sebanyak 10 pertemuan. Pertemuan online mempergunakan mailing list, fasilitas yang disediakan oleh yahoo groups dengan dimoderatori oleh dosen.

Langkah-langkah pembelajarannya dilaksanakan sebagai berikut.

1) Siswa ditugasi untuk menjelajahi internet dan berbagai situs yang tersedia sebanyak mungkin untuk mencari, menemukan, dan mengunduh artikel berita dan materi kuliah yang sesuai dengan topik dan tugas yang diberikan.

2) Siswa membuat draf tulisan awal pada pertemuan offline lalu mengirimkannya ke milis sehingga semua anggota milis dapat membaca tulisan masing-masing.

3) Untuk setiap tugas, siswa diminta memberikan komentar terhadap tulisan empat siswa lain.

4) Siswa diminta memperbaiki tulisan awal dan membahas tulisan yang telah direvisi pada pertemuan offline.

5) Siswa mengirimkan esai ke milis Writing IV dan memberikan komentar terhadap komentar yang mereka terima dari mahasiswa lain.

6) siswa mendiskusikan komentar pada pertemuan offline.

7) siswa diminta untuk membuat tulisan akhir.

Dengan mengikuti beberapa tahapan tersebut, para siswa mengalami secara langsung pembelajaran kolaboratif, penilaian oleh mitra sebaya, dan pemanfaatan internet. Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan pajanan pluralisme gagasan dan sudut pandang sehingga nilai-nilai toleransi dan keterampilan berpikir kritis dapat dikembangkan.

5. Solusi yang Bisa Ditawarkan dalam Mengatasi Problematika Pembelajaran Bahasa Indonesia dan  Perkembangan TIK

Untuk membekali terjadinya pergeseran orientasi pendidikan di era global dalam mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang unggul, diperlukan strategi pengembangan pendidikan, antara lain:

1.  Mengedepankan model perencanaan pendidikan (partisipatif) yang berdasarkan pada need assessment dan karakteristik masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan pendidikan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi.

2.  Peran pemerintah bukan sebagai penggerak, penentu dan penguasa dalam pendidikan, namun pemerintah hendaknya berperan sebagai katalisator, fasilitator dan pemberdaya masyarakat.

3.  Penguatan fokus pendidikan, yaitu fokus pendidikan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, kebutuhan stakeholders, kebutuhan pasar dan tuntutan teman saing.

4.  Pemanfaatan sumber luar (out sourcing), memanfaatkan berbagai potensi sumber daya (belajar) yang ada, lembaga-lembaga pendidikan yang ada, pranata-pranata kemasyarakatan, perusahaan/industri, dan lembaga lain yang sangat peduli pada pendidikan.

5.  Memperkuat kolaborasi dan jaringan kemitraan dengan berbagai pihak, baik dari instansi pemerintah mapun non pemerintah, bahkan baik dari lembaga di dalam negeri maupun dari luar negeri.

6.    Menciptakan soft image pada masyarakat sebagai masyarakat yang gemar belajar, sebagai masyarakat belajar seumur hidup.

7.   Pemanfaatan teknologi informasi, yaitu: lembaga-lembaga pendidikan baik jalur pendidikan formal, informal maupun jalur non formal dapat memanfaatkan teknologi informasi dalam mengakses informasi dalam mengembangkan potensi diri dan lingkungannya (misal; penggunaan internet, multi media pembelajaran, sistem informasi terpadu, dsb).

PENUTUP

Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi. TIK bukan lagi mejadi bahan asing dalam dunia pendidikan tetapi sudah menjadi penting dan sangat mendukung dalam dunia pendidikan. Salah satu bukti pentingnya TIK adalah untuk pemerataan pendidikan dengan kondisi geografis Indonesia yang luas sangat diperlukan TIK. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat telah merambah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk menyentuh dunia pendidikan. Karena itu, sekolah dan guru tidak dapat mengelak dari trend ini hanya karena persoalan anggaran atau pun persoalan keterbatasan akses dan wawasan.

Guru sejatinya memberi contoh kepada siswa bahwa teknologi merupakan suatu keniscayaan yang sedang dihadapi, sehingga penguasaan teknologi adalah sesuatu yang harus direbut oleh siswa. Pemanfaatan teknologi infomasi dan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran perlu diusahakan oleh guru sesuai dengan kemampuan masing-masing sekolah dan guru bersangkutan. Pelatihan internet dan aplikasi tertentu seperti microsoft Office khususnya powerpoint atau aplikasi membuat animasi penting dilakukan untuk para guru di setiap sekolah agar para guru mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran berbasis TIK. Pelatihan tersebut baiknya diadakan di setiap sekolah dengan melibatkan seluruh guru mata pelajaran sehingga akan ada pemerataan pemahaman tentang materi pelatihan yang diberikan.

Bahwa terdapat tantangan-tantangan seperti keterbatasan anggaran untuk melengkapi infrastruktur yang mendukung pada penguasaan teknologi informasi dan komunikasi ini adalah fakta, namun satu hal yang perlu dilakukan adalah membuat satu langkah awal yang mengarah pada penguasaan teknologi baik oleh guru maupun oleh siswa. Satu langkah awal selalu diikuti oleh langkah berikutnya dan terkadang oleh suatu lompatan besar. Karena itu, sekolah dan guru harus memprioritaskan penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam program prioritas. Seluruh sumber daya yang ada secara sinergis diarahkan pada pencapaian program ini sehingga diharapkan sebagaimana target pemerintah bahwa tahun 2009, 75% sekolah menengah telah memiliki akses internet dan menerapkan TIK dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

Daftar Pustaka

Alwi, Hasan, Dendy Sugono, dan A. Rozak Zaidan. (Ed.). 2000. Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi. Jakarta: Pusat Bahasa

Arifin, I. 2000. Profesionalisme Guru: Analisis Wacana Reformasi Pendidikan dalam Era Globalisasi. Simposium Nasional Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang, 25-26 Juli 2001

Efendi, Anwar (Ed). 2008. Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: Tiara Wacana

Harina Yuhetty dan Hardjito, 2004, edukasi net pembelajaran berbasis internet : tantangan dan peluangnya dalam Mozaik Teknologi Pendidikan (Dewi salma dan Eveline Siregar), Kencana Media Group dan Universitas Negeri Jakarta.

Idris, Naswil, 2001, “Pengembangan dan Peranan Sumber Daya Manusia di Era Teknologi Informasi”, Semarang

Moeliono, Anton. 2000. “Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi” dalam Hasan Alwi, Dendy Sugono, dan A. Rozak Zaidan (Ed.). Jakarta: Pusat Bahasa

Munsyi, Alif Danya. 2005. Bahasa Menunjukkan Bangsa. Jakarta: KPG

Pateda, Mansoer. 1991. “Pengaruh Arus Globalisasi terhadap Pembinaan Bahasa di Indonesia”. Makalah Munas V dan Semloknas I HPBI: Padang: Panitia Penyelenggara

Rakhmat, J.1999 . Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosdakarya

Schiffrin, Deborah. 2007. Ancangan Kajian Wacana (terjemahan dari: Approaches ToDiscourse). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Semiawan, C.R. 1991. Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI. Jakarta: Grasindo

Thomas, Linda dan Shan Wareing. 2007. Bahasa, Masyarakat dan Kekuasaan (Terj. dari: Language, Society and Power). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

W. Jorgensen, Marianne dan Louise J. Phillips. 2007. Analisis WacanaTeori dan Metode (terjemahan dari: Discourse Analisys). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

Tag:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.